SNANEPAPUA.COM – Kondisi perekonomian Iran kini tengah menjadi pusat perhatian internasional menyusul melemahnya nilai tukar mata uang negara tersebut secara signifikan. Fluktuasi nilai tukar ini tidak terlepas dari meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah serta berbagai kebijakan ekonomi global yang memberikan tekanan besar terhadap stabilitas finansial Teheran dalam beberapa waktu terakhir.
Fenomena melemahnya mata uang ini memicu kembali diskusi mengenai keunikan sistem moneter di Iran. Secara administratif dan hukum, negara ini menggunakan Rial sebagai mata uang resmi negara. Namun, dalam praktik kehidupan sehari-hari, masyarakat Iran lebih lazim menggunakan istilah Toman sebagai satuan hitung transaksi ekonomi mereka, sebuah kebiasaan yang seringkali membingungkan para pendatang maupun pelaku bisnis internasional.
Perbedaan mendasar antara keduanya terletak pada nilai nominalnya, di mana satu Toman setara dengan sepuluh Rial. Penggunaan Toman sebenarnya berakar dari sejarah panjang dan tradisi masyarakat yang berupaya menyederhanakan penyebutan angka-angka nominal yang membengkak akibat inflasi yang terus membayangi negara tersebut selama beberapa dekade. Dengan memangkas satu angka nol dalam penyebutan, transaksi harian dirasa menjadi jauh lebih praktis dan efisien.
Meskipun Toman mendominasi percakapan di pasar tradisional, pusat perbelanjaan, hingga interaksi sosial, Rial tetap memegang peran sebagai standar tunggal dalam administrasi negara. Laporan keuangan perbankan, dokumen kenegaraan, dan sistem pembayaran elektronik resmi tetap menggunakan Rial. Hal ini menciptakan dualitas unik di mana label harga sering kali ditulis dalam Toman, namun nominal yang digesek pada kartu debit tetap mengacu pada nilai Rial.
Melemahnya nilai tukar ini berdampak langsung pada merosotnya daya beli masyarakat dan meningkatnya biaya hidup di Iran. Pemerintah setempat terus berupaya melakukan berbagai langkah stabilisasi moneter, meski tantangan berupa sanksi internasional dan dinamika politik kawasan tetap menjadi hambatan utama. Memahami perbedaan antara Rial dan Toman menjadi krusial untuk melihat bagaimana roda ekonomi tetap berputar di tengah tekanan ekonomi yang melanda negeri para mullah tersebut.
Editor: SnanePapua
