SnanePapua
BERANDA
KATEGORI INTERNASIONAL POLITIK JEJAK PERISTIWA EKONOMI DAERAH OPINI BUDAYA KEBERLANJUTAN KRIMINAL PARIWISATA POLITIK NASIONAL RILIS EKONOMI OLAHRAGA
INDEX LENGKAP

Tiga Pejabat Papua Barat Daya Terima Brevet Kehormatan Hiperbarik TNI AL

Redaksi Snane
08 Oktober 2024 • 5 min read
IMG-20241007-WA0116.jpg

SNANE PAPUA, Sorong - Tiga pejabat dalam jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Provinsi Papua Barat Daya dianugerahi Brevet Kehormatan Kesehatan Penyelaman dan Hiperbarik oleh Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL). Penganugerahan ini dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Kesehatan TNI AL Tahun 2024 yang dipusatkan di Kota Sorong pada Senin (7/10/2024).

Ketiga pejabat yang menerima penghargaan tersebut adalah Komandan Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut (Danlantamal) XIV Sorong Laksamana Pertama TNI Deny Prasetyo, Penjabat (Pj) Walikota Sorong Dr. Bernhard E. Rondonuwu, S.E., M.Si, serta Direktur RSUD J.P Wanane Kabupaten Sorong dr. Hendrik O.T Mansa, Sp.B. Penganugerahan ini merupakan bentuk apresiasi atas dukungan dan kerja sama dalam pengembangan layanan kesehatan khusus di wilayah tersebut.

Penganugerahan brevet kehormatan ini didasarkan pada Surat Keputusan Kepala Staf Angkatan Laut nomor Kep/2519/X/2024 tertanggal 3 Oktober 2024. Prosesi penyematan dilangsungkan di Hyperbaric Oxygen Therapy Centre, Rumah Sakit Angkatan Laut (Rumkital) dr. R. Oetojo, Sorong. Fasilitas ini merupakan salah satu pusat terapi oksigen bertekanan tinggi terkemuka di wilayah Papua.

Bertindak atas nama Kepala Dinas Perawatan Personel Angkatan Laut (Kadiswatpersal) Brigjen TNI Marinir Mauriadi, S.E., penyematan brevet dipimpin oleh Kepala Rumkital dr. R. Oetojo Sorong, Letkol Laut (K) dr. Adventy Nahan, Sp.B. Kehadiran para pejabat tinggi daerah dalam agenda ini menegaskan komitmen bersama dalam memperkuat infrastruktur kesehatan bagi masyarakat sipil maupun personel militer.

Usai menerima penyematan, Pj Walikota Sorong Bernhard Rondonuwu menyampaikan rasa bangga dan apresiasinya terhadap penghargaan tersebut. "Saya berterima kasih dan kehormatan ini merupakan tanggung jawab kita bersama karena kesehatan milik kita semua, jadi kita harus bekerja sama dan berkolaborasi demi pelayanan kesehatan di kota sorong," ujar Bernhard menekankan pentingnya sinergi lintas instansi.

Sebelum upacara penganugerahan dimulai, para pejabat Forkopimda juga berkesempatan mencoba langsung penggunaan fasilitas Hyperbaric Oxygen Chamber untuk merasakan manfaat klinis terapi oksigen murni. Pengalaman ini dilakukan guna memberikan pemahaman mendalam mengenai teknologi medis yang tersedia di Rumkital dr. R. Oetojo.

Bernhard Rondonuwu mengungkapkan kesan pertamanya saat menjalani terapi di dalam tabung tersebut. "Ini baru pertama kali saya rasakan sensasi masuk di alat itu, ternyata oksigennya sangat bagus untuk pernafasan dan kata dokter kita menghirup oksigen murni yang sangat baik untuk kesehatan dan percepatan regenerasi sel bagi kesembuhan," kata Bernhard.

Kepala Rumkital dr. R. Oetojo, Letkol Laut (K) dr. Adventy Nahan, Sp.B menjelaskan bahwa Hyperbaric Oxygen Chamber memiliki fungsi medis yang sangat luas, mulai dari perawatan luka kronis, penanganan komplikasi diabetes, stroke, penyakit jantung, hingga keperluan estetika kulit. Teknologi ini bekerja dengan meningkatkan kadar oksigen dalam plasma darah untuk mempercepat proses pemulihan jaringan.

Secara teknis, dr. Adventy memaparkan perbedaan antara terapi ini dengan penyelaman konvensional. "Sistim kerja alat ini adalah ruangan udara bertekanan tinggi, serasa kita menyelam tapi menyelam dalam kondisi badan kering. Jadi menyelam itu ditekan menggunakan sistem tekanan, sedangkan di sini kita menggunakan sistem tekanan udara sambil kita menghirup oksigen murni yang berbeda menyelam menggunakan oksigen biasa. Nah kalau ini adalah oksigen murni sehingga manfaat kesehatannya lebih besar dibanding kita menyelam," jelasnya.

Terkait mekanisme administrasi, pihak Rumkital menyatakan bahwa saat ini layanan Hyperbaric Oxygen belum tercover oleh BPJS Kesehatan. Masyarakat yang ingin mendapatkan perawatan ini dapat menggunakan rujukan dokter dengan skema pembiayaan mandiri. Meski demikian, pihak rumah sakit memastikan biaya terapi tetap kompetitif dan terjangkau bagi masyarakat luas.

Layanan terapi ini dapat menampung maksimal 18 orang dalam satu sesi yang berdurasi 90 menit. Menurut dr. Adventy, hasil perawatan biasanya mulai terlihat secara signifikan setelah pasien menjalani 3 hingga 4 sesi terapi secara rutin. Bersamaan dengan agenda penganugerahan, Rumkital dr. R. Oetojo juga menerima bantuan satu unit mobil ambulans dari program BNI Berbagi untuk menunjang operasional medis di lapangan.

Tim Redaksi Snane

Penulis dan jurnalis di SnanePapua, fokus pada isu-isu terkini dan laporan mendalam dari seluruh penjuru Papua.