SNANE PAPUA, Jakarta - Pengamat Timur Tengah dari Universitas Indonesia, Muhammad Syaroni Rofii, menyatakan bahwa Indonesia menempati posisi paling strategis sebagai penentu utama ketahanan pangan di kawasan ASEAN. Dalam analisisnya, ia menilai kapasitas produksi agraris nasional serta stabilitas domestik Indonesia memberikan pengaruh signifikan terhadap kepastian ketersediaan stok pangan bagi negara-negara tetangga di Asia Tenggara.
Syaroni menjelaskan bahwa posisi sentral Indonesia tidak hanya didasarkan pada luas wilayah pertanian yang dimiliki, namun juga didorong oleh pengaruh kepemimpinan diplomatik dalam berbagai forum regional. Indonesia dianggap memiliki potensi besar untuk menjadi pusat distribusi dan lumbung pangan yang mampu memitigasi dampak krisis pangan global yang saat ini tengah mengancam stabilitas ekonomi banyak negara berkembang.
“Indonesia memiliki posisi yang sangat kuat dalam peta geopolitik pangan. Dengan luas lahan yang tersedia dan program-program hilirisasi pertanian yang sedang digalakkan, Indonesia mampu menjadi pemimpin dalam memastikan stabilitas rantai pasok di tingkat ASEAN,” ujar Muhammad Syaroni Rofii saat memberikan keterangannya mengenai dinamika ketahanan pangan di kawasan tersebut.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya sinkronisasi antara kebijakan kedaulatan pangan dalam negeri dengan agenda kerja sama internasional. Syaroni mencermati bahwa keberhasilan pemerintah Indonesia dalam mengelola sektor pertanian akan menjadi tolok ukur bagi ketahanan pangan regional. Hal ini berkaitan erat dengan status Indonesia sebagai pasar terbesar sekaligus produsen utama untuk sejumlah komoditas strategis yang dibutuhkan oleh negara anggota ASEAN lainnya.
Di tengah ketidakpastian geopolitik global yang dipicu oleh konflik internasional, peran Indonesia dipandang semakin vital. Gangguan pada rantai pasok logistik dan krisis energi dunia menuntut negara-negara di Asia Tenggara untuk memperkuat kemandirian pangan kolektif. Syaroni berpendapat bahwa tanpa keterlibatan aktif dan kepemimpinan dari Indonesia, agenda ketahanan pangan ASEAN akan sulit tercapai secara optimal mengingat dominasi ekonomi nasional di kawasan.
Pemerintah Indonesia diharapkan terus mengoptimalkan pemanfaatan teknologi pertanian modern untuk mendongkrak produktivitas lahan secara berkelanjutan. Modernisasi sektor agrikultur dipandang sebagai langkah mutlak agar Indonesia tetap kompetitif dan mampu memenuhi lonjakan permintaan pasar domestik sekaligus menjalankan peran sebagai eksportir strategis bagi negara tetangga yang memiliki keterbatasan sumber daya lahan.
Melalui penguatan sektor pangan secara konsisten, Indonesia tidak hanya mengamankan kepentingan nasionalnya sendiri, tetapi juga memperkokoh posisi tawar dalam diplomasi internasional. Penilaian ini menempatkan sektor pangan sebagai instrumen politik luar negeri yang krusial bagi Indonesia guna menjaga stabilitas, keamanan, dan perdamaian di kawasan Asia Tenggara di masa depan.