SnanePapua
BERANDA
KATEGORI INTERNASIONAL POLITIK JEJAK PERISTIWA EKONOMI DAERAH OPINI BUDAYA KRIMINAL KEBERLANJUTAN PARIWISATA POLITIK NASIONAL RILIS EKONOMI OLAHRAGA
INDEX LENGKAP

BI Terapkan Digital Farming di Pesantren Sorong Dorong Ekonomi Syariah

Redaksi Snane
04 Juni 2025 • 5 min read
20250603_105350.jpg

SNANE PAPUA, Sorong - Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Papua Barat meresmikan program Green House dan Digital Farming di Pondok Pesantren Roudlotul Khuffadz, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya, Selasa (3/6/2025). Langkah ini merupakan bagian dari strategi otoritas moneter dalam mendorong pengembangan kewirausahaan berbasis ekonomi syariah melalui integrasi teknologi pertanian modern di lingkungan pesantren.

Program tersebut dirancang untuk memperkuat ekosistem ekonomi syariah di wilayah Papua Barat Daya dengan menyasar sektor riil. Pemanfaatan teknologi digital farming diharapkan mampu meningkatkan produktivitas hasil tani pesantren, sekaligus menjadi instrumen pendukung dalam menjaga ketahanan pangan dan stabilitas harga di tingkat daerah.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Papua Barat, Setian, menjelaskan bahwa peran BI tidak hanya terbatas pada menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi, tetapi juga aktif dalam menumbuhkan ekonomi syariah dari sisi produksi. Menurutnya, kesiapan regulasi dan infrastruktur kebijakan yang telah dibangun oleh pemerintah perlu disambut dengan kesiapan pelaku usaha di lapangan agar manfaatnya dapat dirasakan secara optimal.

Dalam sambutannya, Setian memberikan analogi bahwa ekonomi syariah saat ini seperti sebuah rangkaian kereta api yang telah dilengkapi fasilitas lengkap, namun masih membutuhkan partisipasi aktif dari masyarakat sebagai penggeraknya. Ia menilai pondok pesantren memiliki kapasitas yang sangat potensial untuk mengambil peran sebagai pelaku ekonomi yang mandiri dan produktif.

“Kami telah menyiapkan regulasi, infrastruktur, dan dukungan kebijakan. Namun, semua itu tidak cukup tanpa pelaku ekonomi di lapangan,” ujar Setian. Ia menegaskan bahwa dengan terlibat langsung dalam aktivitas ekonomi seperti pertanian berbasis teknologi, pesantren dapat memberikan kontribusi nyata bagi pertumbuhan ekonomi syariah nasional serta memperkuat fondasi ekonomi lokal.

Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya menyambut positif inisiatif tersebut. Kepala Biro Pemerintahan Setda Papua Barat Daya, Ismail, yang hadir mewakili Gubernur, menyatakan bahwa program digital farming di Pesantren Roudlotul Khuffadz harus dijadikan sebagai proyek percontohan atau role model bagi lembaga pendidikan keagamaan lainnya di seluruh wilayah Papua Barat Daya.

Ismail mengimbau para pimpinan pondok pesantren yang hadir dalam kegiatan tersebut untuk mempelajari dan menduplikasi sistem pertanian modern ini. Ia menekankan pentingnya keterbukaan dalam mengadopsi teknologi demi kemajuan ekonomi umat. “Program ini bisa direplikasi. Saya harap para pimpinan pesantren yang hadir dapat melakukan studi tiru. Tidak ada salahnya meniru yang baik jika manfaatnya besar,” kata Ismail.

Lebih lanjut, Ismail menekankan bahwa paradigma ekonomi syariah kini bukan lagi sekadar sistem alternatif, melainkan arah baru ekonomi global yang mulai diadopsi luas karena mengedepankan nilai keadilan serta keberlanjutan. Melalui program ini, pemerintah daerah melihat adanya potensi besar dalam upaya pengendalian inflasi melalui ketersediaan pasokan pangan yang lebih stabil secara mandiri.

Implementasi digital farming di lingkungan pesantren diharapkan mampu mencetak santri-santri yang tidak hanya mahir dalam bidang agama, tetapi juga memiliki kemampuan manajerial dan teknologi di bidang agribisnis. Kolaborasi antara Bank Indonesia, pemerintah daerah, dan lembaga pendidikan ini diproyeksikan menjadi katalisator bagi pertumbuhan ekonomi inklusif di wilayah Indonesia Timur.

Tim Redaksi Snane

Penulis dan jurnalis di SnanePapua, fokus pada isu-isu terkini dan laporan mendalam dari seluruh penjuru Papua.