Gelombang kekerasan melanda Meksiko menyusul operasi keamanan yang menewaskan pemimpin kartel narkoba berpengaruh, Nemesio Oseguera Cervantes alias ‘El Mencho’, pada Senin (23/02/2026). Insiden ini memicu serangkaian serangan balasan dari kelompok-kelompok bersenjata di beberapa negara bagian, menandai salah satu episode ketegangan terbaru dalam perang panjang negara itu melawan narkoba.
Pasukan keamanan federal Meksiko melancarkan operasi gabungan di daerah pegunungan terpencil di negara bagian Jalisco. Operasi tersebut berhasil menetralisasi El Mencho, yang selama lebih dari satu dekade memimpin Cartel Jalisco Nueva Generación (CJNG). CJNG dikenal sebagai salah satu organisasi kriminal paling kuat dan kejam di belahan bumi Barat.
Tak lama setelah kabar kematiannya tersiar, kekacauan langsung menyebar. Kelompok-kelompok bersenjata yang diduga loyalis CJNG melancarkan serangan-serangan terkoordinasi. Mereka membakar kendaraan untuk memblokir jalan raya utama di Guadalajara, kota terbesar di Jalisco. Serangan-serangan lain juga terjadi di negara bagian Michoacán dan Guanajuato, dengan laporan tembak-menembak dan pembakaran bisnis.
Pemerintah federal dengan cepat meningkatkan status siaga di wilayah-wilayah terdampak. Menteri Keamanan Publik, Rosa Icela Rodríguez, mengonfirmasi kematian El Mencho dalam konferensi pers darurat. Rodríguez menegaskan bahwa operasi tersebut merupakan hasil dari intelijen yang dikumpulkan selama berbulan-bulan. Ia juga meminta warga untuk tetap tenang dan menghindari area-area yang terjadi kerusuhan.
Namun, eskalasi kekerasan ini mengundang kritik dari beberapa analis keamanan. Mereka memperingatkan bahwa penangkapan atau eliminasi seorang ‘capo’ seringkali justru memicu perebutan kekuasaan yang lebih berdarah di dalam organisasi kriminal. Kekosongan kepemimpinan di CJNG berpotensi memicu perang antar geng untuk menguasai rute-rute perdagangan narkoba yang menguntungkan.
Situasi di lapangan masih terus berkembang. Jaringan media lokal melaporkan adanya pemadaman listrik di beberapa wilayah, yang diduga disengaja oleh para penyerang. Bandara Internasional Guadalajara sempat membatalkan beberapa penerbangan karena alasan keamanan. Sementara itu, sekolah-sekolah dan perkantoran pemerintah di zona merah memutuskan untuk menutup aktivitas hingga situasi dinyatakan aman.
Gelombang kekerasan ini kembali menyoroti tantangan kompleks yang dihadapi Meksiko dalam memerangi kartel narkoba yang sangat terorganisir dan memiliki senjata lengkap. Pemerintah Presiden Andrés Manuel López Obrador kini berada di bawah tekanan untuk mencegah kekerasan lebih lanjut sekaligus mengamankan wilayah-wilayah yang sebelumnya dikuasai CJNG. Masyarakat internasional, khususnya Amerika Serikat, juga memantau dengan cermat perkembangan situasi mengingat pengaruh kartel-kartel Meksiko yang melintasi perbatasan.
Editor: SnanePapua
