Januari 10, 2026

Satu Bulan Larangan Media Sosial di Australia: Remaja Mengaku Lebih Bebas atau Justru Terasing?

SNANEPAPUA.COM – Kebijakan pemerintah Australia yang melarang penggunaan media sosial bagi anak di bawah umur kini telah genap berjalan selama satu bulan. Langkah drastis ini diambil sebagai upaya serius pemerintah untuk melindungi kesehatan mental generasi muda dari dampak negatif dunia digital yang kian masif dan sulit terkendali.

Meskipun baru berjalan selama tiga puluh hari, dampak dari aturan ketat ini mulai terasa secara nyata di kalangan remaja dan para orang tua. Berbagai tanggapan muncul ke permukaan, mulai dari mereka yang awalnya merasa kehilangan hiburan utama hingga mereka yang justru menemukan perspektif baru dalam menjalani keseharian tanpa distraksi gawai.

Beberapa remaja melaporkan bahwa mereka kini memiliki lebih banyak waktu luang untuk melakukan kegiatan fisik dan interaksi langsung dengan teman sebaya di dunia nyata. Salah satu ungkapan yang menarik perhatian adalah pengakuan bahwa mereka merasa lebih bebas karena tidak lagi terbebani oleh standar kecantikan atau gaya hidup yang sering dipaksakan melalui algoritma media sosial.

Namun, di sisi lain, kebijakan ini tidak lepas dari kritik dan skeptisisme. Sebagian kalangan beranggapan bahwa larangan tersebut tidak membawa perubahan signifikan bagi mereka yang sudah terbiasa dengan pola hidup digital. Kelompok ini menilai bahwa tanpa adanya edukasi literasi digital yang mendalam, pelarangan akses hanyalah solusi jangka pendek yang mungkin saja bisa diakali oleh anak-anak yang mahir teknologi.

Keberhasilan jangka panjang dari eksperimen sosial berskala nasional di Australia ini masih terus dipantau oleh para ahli di seluruh dunia. Pemerintah setempat berkomitmen untuk terus mengevaluasi efektivitas aturan ini sembari mencari formula terbaik guna menyeimbangkan antara perlindungan anak dan hak mereka untuk tetap terhubung di era informasi yang terus berkembang pesat.

Cek Sumber Asli

Editor: SnanePapua