JAKARTA – Pada hari Senin, 23 Februari 2026, mantan Menteri Luar Negeri Ukraina Dmytro Kuleba mengungkapkan analisis tajam mengenai konflik yang telah memasuki tahun keempat. Dalam wawancara eksklusif dengan Al Jazeera, Kuleba menyatakan bahwa strategi utama Vladimir Putin adalah memastikan Ukraina jatuh sebelum dirinya sendiri kehilangan kekuasaan. Pernyataan ini disampaikan tepat saat Ukraina memperingati empat tahun perang dengan Rusia yang telah mengubah peta geopolitik Eropa.
Kuleba menjelaskan bahwa Putin telah mengadopsi pendekatan jangka panjang dalam konflik ini, dengan keyakinan bahwa ketahanan Ukraina akan runtuh sebelum tekanan internal maupun eksternal mampu menggoyahkan posisinya di Kremlin. Mantan diplomat tersebut menekankan bahwa pemahaman tentang strategi Putin ini sangat penting untuk merancang respons internasional yang efektif. Menurutnya, Rusia terus mengandalkan kombinasi Tim Redaksi operasi militer skala besar dan tekanan ekonomi untuk melemahkan Ukraina secara bertahap.
Analisis Mendalam Strategi Konflik
Dalam wawancara mendalam tersebut, Kuleba membeberkan berbagai aspek strategi Rusia yang menurutnya dirancang untuk menguji batas ketahanan Ukraina dan dukungan Barat. Ia menyoroti bagaimana Moskow secara sistematis menarget infrastruktur kritis, menciptakan krisis pengungsi, dan memanipulasi pasar energi global untuk meningkatkan tekanan ekonomi. Mantan menteri luar negeri itu menegaskan bahwa Putin percaya waktu bekerja untuknya, dengan asumsi bahwa kelelahan perang akan lebih cepat melanda Ukraina dan sekutunya dibandingkan dengan kemampuan Rusia menahan sanksi internasional.
Kuleba juga mengungkapkan bahwa strategi Putin mencakup upaya untuk membagi opini publik di negara-negara pendukung Ukraina melalui kampanye informasi yang masif. Menurut analisisnya, Kremlin berharap dapat memanfaatkan perbedaan politik domestik di negara-negara Eropa dan Amerika Utara untuk mengurangi dukungan militer dan finansial bagi Ukraina. Namun demikian, mantan pejabat tinggi Ukraina ini menyatakan optimisme bahwa solidaritas internasional terhadap Ukraina tetap kuat meskipun menghadapi berbagai tantangan.
Prospek Perdamaian dan Masa Depan Konflik
Mengenai kemungkinan gencatan senjata, Kuleba menyatakan bahwa peluang untuk mencapai kesepakatan damai dalam waktu dekat sangat tipis. Ia menjelaskan bahwa Rusia belum menunjukkan sinyal nyata kesiapan untuk negosiasi yang bermakna, sementara Ukraina tetap berkomitmen untuk mempertahankan kedaulatan dan integritas teritorialnya. Mantan menteri luar negeri tersebut menekankan bahwa setiap pembicaraan damai harus dimulai dengan penarikan pasukan Rusia dari seluruh wilayah Ukraina, termasuk wilayah yang diduduki sejak 2014.
Kuleba mengakui bahwa perang telah menimbulkan kerugian manusia dan materi yang sangat besar bagi Ukraina, namun ia menegaskan bahwa semangat perlawanan rakyat Ukraina tetap tinggi. Ia menyoroti bagaimana masyarakat sipil, tentara, dan pemerintah bekerja sama untuk membangun ketahanan nasional yang mampu menghadapi agresi Rusia. Menurutnya, pembelajaran dari empat tahun konflik ini telah memperkuat kapasitas pertahanan Ukraina dan memperdalam kerja sama dengan mitra internasional.
Dalam penutup wawancara, Kuleba menyampaikan pesan kepada masyarakat internasional untuk tidak meremehkan tekad Ukraina maupun strategi jangka panjang Putin. Ia menyerukan kesabaran dan konsistensi dalam dukungan terhadap Ukraina, sambil memperingatkan bahwa kemenangan Rusia akan memiliki konsekuensi keamanan yang serius bagi seluruh kawasan Eropa. Analisis mendalam dari mantan pejabat tinggi Ukraina ini memberikan perspektif berharga tentang dinamika konflik yang terus berkembang dan strategi kompleks yang diterapkan oleh berbagai pihak.
Baca artikel aslinya di sini.
Editor: SnanePapua
