SNANEPAPUA.COM – Platform media sosial X milik Elon Musk kembali menjadi pusat perhatian dunia setelah fitur edit gambar berbasis kecerdasan buatan (AI) mereka, Grok, menuai kecaman keras. Pemerintah Inggris secara terbuka melayangkan kritik pedas terhadap perubahan yang diterapkan pada teknologi tersebut, yang dianggap telah melampaui batas etika digital yang berlaku secara internasional.
Editor teknologi Zoe Kleinman menjelaskan bahwa perselisihan ini bermula dari kemampuan Grok dalam memanipulasi gambar dengan cara yang dianggap provokatif dan tidak pantas. Perubahan terbaru pada sistem AI ini memberikan keleluasaan lebih bagi pengguna untuk membuat konten visual yang sebelumnya dibatasi ketat oleh standar keamanan pada platform teknologi pesaing lainnya.
Pemerintah Inggris memberikan reaksi yang sangat tegas dan tidak ragu menyebut hasil manipulasi gambar dari Grok sebagai sesuatu yang “menghina”. Pernyataan resmi ini mencerminkan kekhawatiran mendalam otoritas setempat mengenai potensi penyalahgunaan AI dalam menyebarkan misinformasi atau konten yang merendahkan martabat individu maupun lembaga negara di ruang publik.
Elon Musk, yang selama ini dikenal sebagai pendukung kebebasan berbicara yang absolut, sering kali membela fleksibilitas dan keterbukaan fungsionalitas Grok. Namun, kebijakan moderasi yang dianggap terlalu longgar ini justru menjadi bumerang bagi perusahaan, terutama ketika teknologi tersebut digunakan untuk menghasilkan konten yang memicu ketegangan diplomatik dan sosial di ranah publik internasional.
Perdebatan ini kembali menyoroti tantangan besar yang dihadapi oleh perusahaan teknologi raksasa dalam menyeimbangkan inovasi AI yang cepat dengan tanggung jawab sosial. Hingga saat ini, tekanan terhadap X terus meningkat agar mereka segera memperketat filter keamanan pada Grok guna mencegah eskalasi konflik digital yang lebih luas di masa depan.
Editor: SnanePapua
