SNANEPAPUA.COM – Menteri Luar Negeri Greenland, Vivian Motzfeldt, secara tegas menyatakan bahwa negaranya harus mengambil peran utama dalam setiap pembicaraan diplomatik dengan Amerika Serikat. Pernyataan ini muncul sebagai respon atas meningkatnya perhatian global serta wacana dari Washington yang kembali melirik wilayah otonom di bawah naungan Kerajaan Denmark tersebut untuk kepentingan strategis dan geopolitik mereka.
Motzfeldt mengungkapkan bahwa dirinya memiliki “ekspektasi yang baik” menjelang pertemuan penting dengan Marco Rubio, sosok yang diprediksi akan memegang peranan kunci dalam arah kebijakan luar negeri AS di masa depan. Langkah ini diambil guna memastikan bahwa suara dan aspirasi rakyat Greenland didengar secara langsung tanpa harus selalu bergantung sepenuhnya pada perantara pemerintah Denmark di Kopenhagen.
Isu mengenai masa depan Greenland kembali mencuat ke permukaan menyusul adanya berbagai spekulasi dan ancaman terselubung mengenai pengambilalihan wilayah tersebut oleh pihak Amerika Serikat. Namun, Motzfeldt menekankan bahwa kedaulatan wilayah dan hak menentukan nasib sendiri adalah harga mati, sehingga kerja sama yang dibangun haruslah bersifat saling menguntungkan dan menghormati otonomi lokal.
Greenland, yang dikenal kaya akan sumber daya alam langka dan memiliki posisi geografis yang sangat strategis di kawasan Kutub Utara, kini memang menjadi magnet bagi kekuatan besar dunia. Pemerintah setempat terus berupaya memperkuat posisi tawar mereka, terutama dalam urusan luar negeri dan keamanan, yang selama berdekade-dekade masih didominasi oleh pengaruh politik Denmark.
Dengan memimpin meja negosiasi secara mandiri, Greenland berharap dapat membangun hubungan bilateral yang lebih setara dan transparan dengan Washington. Motzfeldt meyakini bahwa dialog terbuka dan inklusif adalah satu-satunya jalan untuk menjaga stabilitas di kawasan Arktik, sembari tetap memprioritaskan kesejahteraan ekonomi dan sosial bagi masyarakat asli Greenland.
Editor: SnanePapua
