SNANEPAPUA.COM – Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Tangsel) kini harus menghadapi kenyataan pahit terkait tingginya biaya pengelolaan limbah di wilayahnya. Melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH), pemerintah setempat dilaporkan harus mengalokasikan anggaran yang sangat besar setiap harinya hanya untuk memastikan sampah rumah tangga dan perkotaan dapat terkelola dengan baik.
Berdasarkan informasi terbaru, biaya pengelolaan sampah atau yang lebih dikenal dengan istilah tipping fee yang harus dibayarkan Pemkot Tangsel mencapai Rp90 juta per hari. Dana tersebut disetorkan kepada pihak pengelola tempat pengolahan limbah yang berada di kawasan Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Langkah pengiriman sampah ke luar daerah ini diambil sebagai konsekuensi dari terbatasnya kapasitas infrastruktur pengolahan sampah mandiri di Kota Tangerang Selatan. Dengan volume produksi sampah yang terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk yang pesat, kerja sama dengan pihak pengelola di Cileungsi menjadi solusi jangka pendek yang harus ditempuh.
Besarnya nilai anggaran harian ini tentu menjadi sorotan, mengingat jika diakumulasikan dalam satu bulan, pemerintah daerah harus menyiapkan dana sekitar Rp2,7 miliar. Angka tersebut mencerminkan betapa mahalnya biaya yang harus dibayar untuk menjaga kebersihan kota di tengah minimnya lahan pembuangan akhir yang memadai.
Kondisi ini diharapkan menjadi pendorong bagi Pemerintah Kota Tangerang Selatan untuk segera mempercepat pembangunan teknologi pengolahan sampah yang lebih efisien di dalam kota. Pengurangan volume sampah dari tingkat rumah tangga dan optimalisasi bank sampah menjadi kunci utama agar beban finansial daerah untuk tipping fee tidak terus membengkak di masa depan.
Editor: SnanePapua
