Januari 11, 2026

Dilema Demokrasi di Tengah Perang: Myanmar Tetap Gelar Pemilu Meski Kota-kota Menjadi Mati

SNANEPAPUA.COM – Pemerintah militer Myanmar dilaporkan tetap bersikeras untuk menyelenggarakan pemilihan umum meskipun kondisi negara tersebut saat ini masih dalam keadaan porak-poranda akibat dampak perang saudara yang berkepanjangan. Langkah ini diambil di tengah skeptisisme global mengenai kelayakan proses demokrasi di wilayah yang sedang dilanda konflik bersenjata hebat.

Situasi di lapangan menunjukkan pemandangan yang memprihatinkan, di mana banyak kota kini telah ditinggalkan oleh penduduknya. Kota-kota yang dulunya ramai kini berubah menjadi kota mati dengan bangunan-bangunan yang hancur, menjadi bukti nyata betapa parahnya dampak peperangan yang melibatkan pasukan junta militer dan kelompok perlawanan etnis di berbagai penjuru negeri.

Upaya penyelenggaraan pemilu ini dipandang oleh banyak pengamat sebagai langkah politik yang dipaksakan demi mencari legitimasi kekuasaan. Namun, dengan sebagian besar wilayah negara masih berada dalam zona pertempuran aktif, muncul pertanyaan besar mengenai bagaimana pemungutan suara dapat dilakukan secara adil, aman, dan transparan bagi jutaan warga yang terpaksa mengungsi.

Krisis kemanusiaan yang semakin mendalam di Myanmar juga menjadi hambatan utama dalam pelaksanaan pesta demokrasi ini. Infrastruktur yang rusak parah serta terputusnya jalur komunikasi di banyak daerah membuat koordinasi logistik pemilu menjadi hampir mustahil untuk dilakukan secara efektif tanpa adanya gencatan senjata yang menyeluruh.

Hingga saat ini, komunitas internasional terus memantau perkembangan di Myanmar dengan penuh kekhawatiran. Tanpa adanya stabilitas keamanan dan partisipasi publik yang inklusif, hasil dari pemilu ini dikhawatirkan hanya akan memperpanjang ketegangan politik dan tidak akan memberikan solusi nyata bagi perdamaian di negara tersebut.

Cek Sumber Asli

Editor: SnanePapua