Pemerintah Chad secara resmi menutup seluruh perbatasannya dengan Sudan mulai Senin (23/02/2026). Keputusan tegas ini mereka ambil menyusul insiden lintas batas yang menewaskan lima personel militer Chad. Kementerian Luar Negeri Chad menyatakan penutupan perbatasan akan berlaku hingga pemberitahuan lebih lanjut.
Insiden mematikan tersebut terjadi ketika pasukan dari konflik Sudan melancarkan serangan lintas batas. Militer Chad melaporkan bahwa kelompok bersenjata dari Sudan memasuki wilayah mereka dan menyerang posisi militer. Pertempuran sengit pun pecah di daerah perbatasan yang rawan.
Pejabat tinggi Chad menegaskan penutupan perbatasan sebagai langkah darurat untuk melindungi kedaulatan negara. Mereka menyoroti pelanggaran berulang oleh pihak-pihak yang bertikai di Sudan. Situasi ini dinilai mengancam stabilitas keamanan regional dan keselamatan warga perbatasan.
Konflik internal Sudan telah berlangsung selama hampir tiga tahun. Pertempuran antara Angkatan Bersenjata Sudan dan Pasukan Dukungan Cepat terus meluas ke wilayah perbatasan. Gelombang pengungsi Sudan ke Chad pun semakin meningkat dalam beberapa bulan terakhir.
Pemerintah Chad telah memanggil Duta Besar Sudan untuk menyampaikan protes resmi. Mereka menuntut pertanggungjawaban atas insiden tersebut dan jaminan keamanan perbatasan. Komunitas internasional mulai menyoroti eskalasi ketegangan di wilayah tersebut.
Penutupan perbatasan ini berdampak signifikan pada lalu lintas perdagangan dan pergerakan warga. Rute perdagangan tradisional antara kedua negara kini terputus total. Warga yang memiliki keluarga di kedua sisi perbatasan menghadapi kesulitan besar.
PBB dan Uni Afrika telah mengeluarkan pernyataan keprihatinan atas perkembangan terbaru ini. Mereka mendesak semua pihak untuk menahan diri dan menghormati integritas wilayah negara tetangga. Mediasi internasional didorong untuk mencegah konflik lebih luas.
Analis keamanan menilai keputusan Chad sebagai respons defensif yang diperlukan. Namun mereka memperingatkan potensi dampak ekonomi jangka panjang. Krisis kemanusiaan di wilayah perbatasan juga dikhawatirkan akan semakin parah.
Pemerintah Chad saat ini memperkuat posisi militer di sepanjang perbatasan. Patroli udara dan darat mereka intensifkan untuk mencegah infiltrasi lebih lanjut. Koordinasi dengan pasukan penjaga perdamaian regional juga ditingkatkan.
Situasi ini menjadi ujian baru bagi stabilitas regional Afrika Tengah. Diplomasi intensif diperlukan untuk meredakan ketegangan dan membuka kembali perbatasan. Keamanan warga sipil harus menjadi prioritas utama semua pihak.
Editor: SnanePapua
