JAKARTA – Pada hari Senin, 23 Februari 2026, dunia menyaksikan fenomena menarik di mana negara-negara Barat menunjukkan gelombang nostalgia terhadap masa kolonial mereka. Apa yang sebenarnya terjadi di balik tren ini menjadi pertanyaan kritis bagi para pengamat politik global. Sejumlah analis menilai upaya sistematis sedang dilakukan untuk merehabilitasi masa lalu kolonial demi membangun tatanan dunia baru.
Fenomena Nostalgia Kolonial di Era Modern
Dalam beberapa tahun terakhir, muncul berbagai gerakan dan narasi yang mencoba memoles citra masa kolonial di negara-negara Barat. Banyak sejarawan mengungkapkan kekhawatiran terhadap upaya rekonstruksi sejarah yang cenderung mengaburkan penderitaan bangsa-bangsa terjajah. Media massa turut berperan dalam menyebarkan romantisme terhadap periode kolonial melalui berbagai konten budaya populer.
Para sosiolog mencatat bahwa nostalgia kolonial sering kali muncul bersamaan dengan krisis identitas nasional di negara-negara Barat. Ketidakpastian ekonomi dan perubahan demografis mendorong sebagian masyarakat untuk mencari kenyamanan dalam ingatan kolektif tentang masa lalu yang dianggap lebih gemilang. Namun, ingatan tersebut sering kali merupakan versi yang telah dimanipulasi dan diputihkan dari realitas sejarah yang sebenarnya.
Motivasi Politik di Balik Romantisasi Sejarah
Di balik permukaan nostalgia yang tampak sederhana, tersembunyi agenda politik yang lebih kompleks. Banyak pemerhati hubungan internasional menyoroti bagaimana romantisasi masa kolonial digunakan untuk membenarkan kebijakan luar negeri tertentu. Narasi tentang “misi peradaban” dan “tanggung jawab putih” kembali muncul dalam wacana publik meski dengan kemasan yang lebih modern.
Para ekonom politik mengungkapkan bahwa nostalgia kolonial juga berkaitan erat dengan kepentingan ekonomi global. Dalam konteks persaingan kekuatan dunia yang semakin ketat, penguatan identitas kolonial dapat menjadi alat untuk memperkuat posisi dalam percaturan internasional. Beberapa negara bahkan menggunakan nostalgia ini untuk membangun aliansi strategis berdasarkan warisan sejarah bersama.
Yang paling mengkhawatirkan adalah bagaimana upaya rehabilitasi masa kolonial ini dapat memengaruhi hubungan antarnegara bekas jajahan dan penjajah. Banyak negara di Asia, Afrika, dan Amerika Latin yang masih berjuang mengatasi warisan kolonialisme merasa terancam dengan tren ini. Mereka khawatir bahwa romantisasi sejarah akan menghambat proses rekonsiliasi dan pemulihan keadilan historis.
Para aktivis hak asasi manusia menekankan pentingnya mempertahankan narasi sejarah yang akurat dan berimbang. Mereka mengingatkan bahwa nostalgia kolonial yang tidak kritis dapat mengabaikan penderitaan jutaan manusia selama periode penjajahan. Pendidikan sejarah yang komprehensif dan inklusif menjadi kunci untuk mencegah distorsi fakta sejarah di masa depan.
Baca artikel aslinya di sini.
Editor: SnanePapua
