JAKARTA – Pada hari Senin, 23 Februari 2026, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengusulkan pembentukan aliansi strategis baru yang disebut ‘Hexagon’ di tengah meningkatnya isolasi internasional yang dihadapi negara tersebut. Proposal aliansi ‘hexagon’ Netanyahu ini menuai berbagai reaksi dari analis global yang menyebutnya sebagai ‘dunia fantasi’ mengingat kompleksitas hubungan geopolitik saat ini.
Aliansi yang direncanakan Netanyahu ini bertujuan untuk menghubungkan Israel dengan lima negara lain dalam kerjasama keamanan dan ekonomi yang komprehensif. Rencana aliansi ‘hexagon’ tersebut muncul ketika Israel menghadapi tekanan diplomatik yang semakin besar dari berbagai negara akibat konflik berkepanjangan di wilayah tersebut.
Rencana Strategi Netanyahu Menghadapi Isolasi Global
Benjamin Netanyahu mengungkapkan bahwa aliansi ‘hexagon’ yang direncanakannya akan melibatkan negara-negara dengan kepentingan strategis serupa di kawasan Timur Tengah dan sekitarnya. Proposal aliansi ‘hexagon’ ini dianggap sebagai upaya Netanyahu untuk menciptakan blok kekuatan baru yang dapat menandingi pengaruh kekuatan regional lainnya.
Para analis politik internasional menyoroti bahwa rencana aliansi ‘hexagon’ Netanyahu menghadapi tantangan besar mengingat perbedaan kepentingan dan sejarah konflik di Tim Redaksi negara-negara potensial yang akan terlibat. Beberapa pengamat bahkan menyebut konsep aliansi ‘hexagon’ ini sebagai visi yang terlalu ambisius dan sulit direalisasikan dalam kondisi geopolitik saat ini.
Di tengah kritik tersebut, Netanyahu tetap bersikukuh bahwa aliansi ‘hexagon’ yang direncanakannya dapat menjadi solusi jangka panjang untuk stabilitas kawasan. Ia menekankan bahwa kerja sama dalam kerangka aliansi ‘hexagon’ akan mencakup berbagai aspek mulai dari keamanan bersama, pertukaran intelijen, hingga kerjasama ekonomi dan teknologi.
Tantangan Realisasi Aliansi Hexagon Netanyahu
Implementasi aliansi ‘hexagon’ yang direncanakan Netanyahu menghadapi berbagai kendala praktis. Pertama-tama, identifikasi negara-negara yang akan menjadi bagian dari aliansi ‘hexagon’ ini masih menjadi perdebatan di kalangan pembuat kebijakan Israel. Beberapa sumber menyebutkan bahwa Netanyahu mengincar negara-negara dengan hubungan diplomatik yang sudah terjalin dengan Israel.
Kedua, respons internasional terhadap proposal aliansi ‘hexagon’ Netanyahu menunjukkan skeptisisme yang cukup tinggi. Banyak negara mengkhawatirkan bahwa pembentukan aliansi ‘hexagon’ ini justru dapat memicu ketegangan baru di kawasan yang sudah rentan konflik. Beberapa diplomat bahkan menyatakan bahwa aliansi ‘hexagon’ yang direncanakan Netanyahu mungkin akan menghadapi penolakan dari negara-negara yang merasa kepentingannya terancam.
Ketiga, faktor domestik Israel sendiri menjadi pertimbangan penting. Opini publik dan koalisi politik dalam negeri Israel terpecah mengenai kelayakan aliansi ‘hexagon’ yang diusulkan Netanyahu. Beberapa pihak mendukung rencana aliansi ‘hexagon’ ini sebagai terobosan diplomatik, sementara yang lain mengkritiknya sebagai strategi yang berisiko tinggi.
Meskipun menghadapi berbagai tantangan, Netanyahu tetap optimis bahwa aliansi ‘hexagon’ yang direncanakannya dapat terwujud dalam beberapa tahun ke depan. Ia berargumen bahwa perubahan dinamika geopolitik global menciptakan peluang baru untuk bentuk kerjasama seperti aliansi ‘hexagon’ yang diusulkannya. Namun, banyak pengamat tetap meragukan bahwa aliansi ‘hexagon’ Netanyahu dapat bekerja efektif mengingat kompleksitas hubungan internasional di kawasan Timur Tengah.
Perkembangan lebih lanjut mengenai aliansi ‘hexagon’ yang direncanakan Netanyahu ini akan sangat bergantung pada respons negara-negara potensial dan perkembangan situasi geopolitik global. Sementara itu, Israel terus berupaya mengatasi isolasi internasional melalui berbagai jalur diplomasi, dengan aliansi ‘hexagon’ menjadi salah satu proposal paling ambisius yang diajukan Netanyahu dalam beberapa tahun terakhir.
Baca artikel aslinya di sini.
Editor: SnanePapua
