Februari 24, 2026
latin america in the

Amerika Latin dalam Bayang-Bayang AS: Gelombang Kiri dan Penangkapan Maduro 2026

JAKARTA – Pada hari Senin, 23 Februari 2026, Amerika Latin dalam bayang-bayang Amerika Serikat kembali menjadi sorotan setelah penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro menandai puncak ketegangan geopolitik regional. Peristiwa dramatis ini mengakhiri gelombang pemimpin sayap kiri yang menguasai kawasan sejak awal abad ke-21, memicu analisis mendalam tentang dinamika kekuatan di belahan bumi barat.

Gelombang Kiri Abad 21 dan Respons Amerika Serikat

Selama dua dekade terakhir, Amerika Latin menyaksikan kebangkitan pemimpin-pemimpin progresif yang menantang hegemoni tradisional Washington. Venezuela di bawah Hugo Chavez dan penerusnya Nicolas Maduro menjadi simbol perlawanan terbesar, diikuti oleh Bolivia dengan Evo Morales, Brasil di era Lula da Silva, dan Argentina dengan pemerintahan Kirchner. Gerakan politik ini tidak hanya mengubah peta ekonomi regional melalui kebijakan redistribusi kekayaan, tetapi juga membentuk aliansi-aliansi baru yang mengurangi ketergantungan pada Amerika Serikat. Washington merespons perkembangan ini dengan kombinasi sanksi ekonomi, tekanan diplomatik, dan dukungan kepada oposisi internal di berbagai negara, menciptakan medan pertarungan ideologis yang intens di seluruh kawasan.

Puncak Ketegangan: Penangkapan Maduro 2026

Penangkapan Nicolas Maduro pada awal 2026 menjadi momen penentu dalam sejarah Amerika Latin dalam pengaruh global. Operasi militer yang melibatkan koalisi negara-negara regional dengan dukungan terselubung AS ini mengakhiri pemerintahan Maduro yang telah berkuasa selama 13 tahun. Peristiwa tersebut memicu protes besar-besaran pendukung pemerintah di Caracas dan kota-kota utama Venezuela, sementara pihak oposisi merayakannya sebagai kemenangan demokrasi. Analis politik menilai bahwa penangkapan ini tidak hanya mengubah masa depan Venezuela, tetapi juga mengirim pesan kuat kepada pemerintahan kiri lainnya di kawasan tentang batas toleransi Washington terhadap perlawanan terhadap kebijakannya. Dampak riaknya terasa segera di Bolivia, Nikaragua, dan Kuba, yang kini menghadapi tekanan internasional yang semakin meningkat.

Masa depan Amerika Latin dalam tatanan geopolitik pasca-Maduro masih belum jelas. Beberapa pengamat memprediksi kembalinya pengaruh AS yang lebih kuat melalui pemerintahan-pemerintahan konservatif yang didukung Washington, sementara yang lain memperkirakan munculnya bentuk perlawanan baru yang lebih terfragmentasi namun tetap signifikan. Faktor-faktor seperti meningkatnya pengaruh Tiongkok melalui investasi infrastruktur, krisis iklim yang mempengaruhi pertanian regional, dan migrasi massal terus membentuk realitas kompleks kawasan ini. Yang pasti, episode penangkapan Maduro akan dikenang sebagai titik balik dalam hubungan Amerika Latin dengan kekuatan adidaya di utara, membuka babak baru dalam perjuangan panjang untuk kedaulatan dan model pembangunan alternatif.

Baca artikel aslinya di sini.

Editor: SnanePapua