Senin, 23 Februari 2026 – Lebih dari 1.000 warga Kenya dan orang-orang dari 36 negara Afrika lainnya kini terlibat dalam pertempuran di Ukraina untuk pihak Rusia. Banyak dari mereka menjadi korban penipuan rekrutmen yang menjanjikan pekerjaan sipil bergaji tinggi, namun berujung pada medan perang dengan pilihan mengerikan: you either fight or mati. Laporan mendalam dari News Engine mengungkap jaringan perekrutan gelap yang mengeksploitasi harapan ekonomi para pemuda Afrika.
Mimpi Pekerjaan yang Berubah Jadi Mimpi Buruk
Para korban, yang sebagian besar berasal dari latar belakang ekonomi sulit, menerima tawaran menggiurkan untuk bekerja sebagai tukang masak, sopir, atau tenaga keamanan di luar negeri dengan kontrak mengikat. Mereka tidak menyadari bahwa tujuan akhirnya adalah garis depan perang Rusia-Ukraina. Begitu tiba, paspor mereka disita dan mereka dihadapkan pada realitas pahit: you either fight or menghadapi konsekuensi tidak jelas dari pihak yang merekrut mereka. Banyak yang menandatangani dokumen dalam bahasa Rusia tanpa pemahaman, yang kemudian digunakan untuk mengikat mereka secara hukum.
Jebakan di Garis Depan dan Upaya Diplomasi
Di medan perang, para rekruit Afrika ini sering mendapat perlakuan diskriminatif dan ditempatkan di posisi-posisi berbahaya dengan pelatihan minimal. Kisah para penyintas menggambarkan situasi tanpa pilihan: you either fight or anda akan ditinggalkan dalam situasi yang bahkan lebih mematikan. Pemerintah Kenya telah mengonfirmasi setidaknya 30 warganya tewas dalam konflik tersebut dan sedang berupaya melalui jalur diplomatik. Isu ini menyoroti kerentanan pemuda di negara berkembang terhadap praktik eksploitasi global, di mana janji kehidupan lebih baik berubah menjadi perangkap mematikan dengan mantra you either fight or binasa.
Komunitas internasional mulai meningkatkan tekanan untuk menginvestigasi skema perekrutan ilegal ini. Sementara itu, keluarga korban di Kenya terus berharap dan menuntut keadilan bagi anggota keluarga mereka yang terjebak dalam dilema you either fight or menghadapi ancaman langsung. Kasus ini menjadi pengingat kelam tentang bagaimana konflik geopolitik dapat menyedot korban dari negara-negara yang bahkan tidak terlibat langsung, melalui skema yang memanfaatkan keputusasaan ekonomi.
Editor: SnanePapua
