Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) memulai sidang perdana untuk mantan Presiden Filipina Rodrigo Duterte pada Senin (23/02/2026). Sidang yang membuka babak baru dalam proses hukum internasional ini langsung diwarnai unjuk rasa dari para aktivis hak asasi manusia di depan gedung ICC di Den Haag. Mereka menuntut keadilan atas dugaan kejahatan terhadap kemanusiaan selama periode pemerintahan Duterte.
Aksi protes yang terekam dalam berbagai video menunjukkan puluhan demonstran membawa spanduk dan poster bertuliskan tuntutan pertanggungjawaban. Para pengunjuk rasa berasal dari berbagai organisasi hak asasi manusia internasional dan kelompok korban dari Filipina. Mereka menyuarakan solidaritas bagi keluarga korban dalam perang narkoba yang kontroversial di era Duterte.
Sidang pembukaan ini menandai dimulainya proses hukum formal setelah penyelidikan panjang ICC. Jaksa penuntut akan mempresentasikan bukti-bukti awal terkait dugaan pelanggaran sistematis. Tim hukum Duterte telah menyatakan akan membantah semua tuduhan dan mengkritik yurisdiksi ICC dalam kasus ini.
Pemerintah Filipina sendiri tetap mempertahankan posisi menolak campur tangan ICC. Otoritas Manila menegaskan sistem peradilan domestik mampu menangani semua masalah hukum. Namun, kelompok korban menyatakan proses di Filipina tidak memberikan harapan keadilan yang memadai.
Pengamat hukum internasional menyebut sidang ini sebagai ujian penting bagi kredibilitas ICC. Proses hukum terhadap mantan kepala negara selalu menjadi kasus kompleks yang melibatkan aspek politik dan hukum. Publik global kini memantau perkembangan setiap tahapan persidangan melalui berbagai liputan media.
Rangkaian sidang diperkirakan akan berlangsung dalam beberapa fase selama bulan-bulan mendatang. Para saksi korban dijadwalkan akan memberikan kesaksian dalam sesi-sidang tertutup untuk perlindungan keamanan. Mahkamah juga akan mempertimbangkan permintaan dari berbagai pihak terkait metode pembuktian.
Dampak persidangan ini telah memicu debat nasional di Filipina tentang akuntabilitas pemimpin dan perlindungan hak asasi. Diskusi publik terbelah antara dukungan terhadap proses hukum internasional dan pembelaan atas kedaulatan nasional. Situasi ini mencerminkan kompleksitas rekonsiliasi antara pertanggungjawaban global dan realitas politik domestik.
Perkembangan sidang terus dipantau oleh komunitas internasional melalui siaran langsung dan dokumentasi video. Arsip visual dari proses hukum ini diharapkan dapat menjadi bahan edukasi publik tentang mekanisme keadilan transisi. ICC berkomitmen menjalankan prosedur dengan transparansi maksimal sesuai mandat statuta Roma.
Editor: SnanePapua
