Februari 24, 2026
Christian Zionism

Mengurai Christian Zionism: Akar Ideologis Dukungan AS untuk Ekspansi Israel di Timur Tengah

Pernyataan kontroversial Duta Besar Amerika Serikat untuk Israel, Mike Huckabee, yang menyatakan Israel memiliki hak dari Tuhan atas sebagian besar wilayah Timur Tengah, telah membuka kembali perdebatan tentang Christian Zionism. Analisis mendalam mengungkap bahwa pernyataan diplomat senior AS tersebut bukan sekadar retorika politik, melainkan berakar pada doktrin teologis yang kompleks dan berpengaruh dalam kebijakan luar negeri Washington.

Christian Zionism, atau Zionisme Kristen, merupakan gerakan teologis-politik dalam Kekristenan—terutama di kalangan evangelikal Protestan—yang meyakini bahwa kembalinya bangsa Yahudi ke Tanah Israel dan pendirian negara Israel merupakan penggenapan nubuat alkitabiah. Penganut paham ini percaya bahwa dukungan terhadap ekspansi teritorial Israel adalah bagian dari rencana ilahi yang akan memicu Kedatangan Kedua Yesus Kristus dan akhir zaman.

Dari perspektif analitis, fenomena ini memiliki tiga dimensi utama: teologis, politik, dan geopolitik. Secara teologis, Christian Zionism berlandaskan interpretasi harfiah terhadap nubuat Perjanjian Lama, khususnya kitab Kejadian 12:3 yang menyebutkan berkat bagi mereka yang memberkati Israel. Doktrin ini berkembang pesat di AS sejak abad ke-19 dan mencapai puncak pengaruhnya setelah Perang Enam Hari 1967.

Dimensi politik terlihat dalam lobi-lobi kuat kelompok evangelikal di Kongres AS dan pemerintahan. Survei Pew Research Center menunjukkan sekitar 35% warga AS mengidentifikasi sebagai evangelikal, dengan mayoritas mendukung kebijakan pro-Israel tanpa syarat. Pengaruh ini menjelaskan konsistensi dukungan AS terhadap Israel meski terjadi pergantian administrasi.

Pada level geopolitik, Christian Zionism menjadi faktor penjelas mengapa AS sering menggunakan veto di Dewan Keamanan PBB terhadap resolusi yang mengkritik Israel. Pernyataan Huckabee tentang ‘hak ilahi’ Israel atas wilayah yang diperebutkan mencerminkan konvergensi antara keyakinan religius dengan realpolitik di kawasan MENA (Timur Tengah dan Afrika Utara).

Para ahli konflik Timur Tengah mencatat bahwa doktrin ini memiliki implikasi serius terhadap proses perdamaian. Dengan menganggap pemukiman Israel di Tepi Barat sebagai kehendak ilahi, Christian Zionism secara tidak langsung melegitimasi pendudukan dan mempersulit solusi dua negara. Paradoksnya, banyak penganut Christian Zionism yang sebenarnya tidak mendukung Yudaisme sebagai agama, tetapi melihat bangsa Yahudi sebagai instrumen dalam skenario eskatologis Kristen.

Di Indonesia, pemahaman tentang fenomena ini penting untuk menginterpretasi dinamika politik global. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar, Indonesia perlu menyadari bahwa konflik Israel-Palestina tidak hanya dipengaruhi oleh faktor historis dan politik, tetapi juga oleh narasi teologis yang mendalam di kalangan pembuat kebijakan Barat.

Kritik terhadap Christian Zionism datang dari berbagai kalangan, termasuk teolog Kristen yang menolak interpretasi literal nubuat alkitabiah untuk justifikasi politik konTim Redaksi SnanePapuarer. Mereka berargumen bahwa doktrin ini mengabaikan penderitaan warga Palestina dan mengurangi kompleksitas konflik menjadi skenario deterministik.

Kesimpulannya, pernyataan Huckabee bukan insiden terisolasi, melainkan manifestasi dari ideologi yang telah membentuk kebijakan Timur Tengah AS selama puluhan tahun. Memahami Christian Zionism adalah kunci untuk menganalisis mengapa resolusi konflik Israel-Palestina tetap stagnan, sekaligus mencerminkan bagaimana keyakinan agama dapat memengaruhi geopolitik global di abad ke-21.

Cek Sumber Asli

Editor: SnanePapua