SNANEPAPUA.COM – Dinamika media sosial saat ini telah mengubah cara masyarakat memandang dan mengonsumsi konten keagamaan secara signifikan. Fenomena trending topic sering kali menjadi barometer popularitas sebuah isu, namun sayangnya, mekanisme algoritma digital cenderung memprioritaskan interaksi yang dipicu oleh emosi kuat. Hal ini berdampak langsung pada bagaimana nilai-nilai agama direpresentasikan di ruang publik digital yang serba cepat.
Algoritma yang digunakan oleh berbagai platform media sosial saat ini dirancang untuk memaksimalkan keterlibatan pengguna (engagement). Konten yang bersifat provokatif, kontroversial, atau memancing perdebatan panas biasanya mendapatkan jangkauan yang jauh lebih luas dibandingkan konten yang bersifat menyejukkan atau edukatif. Akibatnya, narasi keagamaan yang moderat dan mendalam sering kali tenggelam oleh isu-isu yang lebih bombastis dan emosional.
Kondisi ini memicu munculnya wajah agama yang tampak keras dan kaku di lini masa. Ketika sebuah isu agama menjadi viral, sering kali yang ditonjolkan adalah sisi fragmentasi atau perpecahan antar kelompok daripada persatuan. Pengguna media sosial pun secara tidak sadar terjebak dalam gelembung informasi (echo chamber) yang hanya memperkuat prasangka mereka sendiri, tanpa memberikan ruang bagi dialog yang sehat dan inklusif.
Selain masalah polarisasi, kedalaman substansi ajaran agama juga terancam menjadi dangkal di ranah digital. Demi mengejar angka likes, shares, dan komentar, pesan-pesan spiritual sering kali disederhanakan secara berlebihan atau bahkan dipelintir untuk kepentingan konten semata. Hal ini menciptakan persepsi yang keliru bagi masyarakat luas, terutama generasi muda yang menjadikan media sosial sebagai sumber utama dalam mempelajari nilai-nilai kehidupan.
Oleh karena itu, diperlukan kesadaran kolektif dari para pengguna internet untuk lebih bijak dalam menyaring informasi yang beredar. Literasi digital dan penguatan narasi perdamaian menjadi kunci utama agar wajah agama di dunia maya kembali menampilkan kesejukan dan kebijaksanaan, bukan sekadar menjadi komoditas algoritma yang mengejar viralitas semata.
Editor: SnanePapua
