SNANEPAPUA.COM – Krisis kemanusiaan di Jalur Gaza semakin memburuk seiring dengan datangnya cuaca ekstrem yang melanda wilayah kantong Palestina tersebut. Seorang bayi dilaporkan meninggal dunia akibat suhu dingin yang membeku, memperpanjang daftar korban jiwa di tengah blokade bantuan yang masih terus dilakukan oleh pihak militer Israel.
Kondisi cuaca yang sangat buruk ini memperparah penderitaan jutaan warga Gaza yang sudah kehilangan tempat tinggal akibat konflik berkepanjangan. Tanpa adanya fasilitas penghangat yang memadai, anak-anak dan bayi menjadi kelompok yang paling rentan terhadap serangan hipotermia yang mematikan di tengah tenda-tenda pengungsian yang rapuh.
Laporan terbaru menunjukkan bahwa Israel masih terus menghalangi masuknya berbagai bantuan vital yang sangat dibutuhkan warga sipil untuk bertahan hidup. Di antara bantuan yang tertahan di perbatasan adalah rumah-rumah bergerak (mobile homes) yang seharusnya bisa menjadi tempat berlindung bagi keluarga-keluarga yang kini terpaksa tinggal di ruang terbuka.
Penutupan akses bagi kebutuhan pokok ini telah memicu gelombang kecaman internasional, mengingat urgensi bantuan di tengah musim dingin yang menusuk tulang. Para aktivis kemanusiaan memperingatkan bahwa jika blokade ini tidak segera dibuka secara menyeluruh, jumlah korban jiwa, terutama dari kalangan balita, diprediksi akan terus meningkat secara signifikan.
Situasi di lapangan saat ini digambarkan sangat mencekam, di mana para orang tua harus berjuang ekstra keras untuk menjaga anak-anak mereka tetap hangat dengan peralatan seadanya. Masyarakat dunia kini mendesak adanya tindakan diplomatik yang nyata untuk memastikan bantuan kemanusiaan dapat mencapai mereka yang paling membutuhkan tanpa hambatan apa pun demi mencegah tragedi lebih lanjut.
Editor: SnanePapua
