SNANEPAPUA.COM – Konflik bersenjata yang berkecamuk di wilayah Myanmar kini memberikan dampak mematikan bagi warga sipil di perbatasan Bangladesh. Penggunaan ranjau darat di sepanjang garis perbatasan telah menyebabkan banyak warga kehilangan anggota tubuh dan menghancurkan masa depan mereka di tengah ketegangan yang terus meningkat.
Laporan terbaru mengungkapkan bahwa ranjau-ranjau ini ditanam secara sengaja di area yang sering dilalui oleh penduduk desa, termasuk kawasan hutan dan lahan pertanian yang menjadi sumber penghidupan utama. Warga yang sebelumnya menggantungkan hidup pada hasil alam kini harus berhadapan dengan ancaman maut yang tersembunyi di bawah tanah setiap kali mereka melangkah keluar rumah untuk bekerja.
Banyak korban yang selamat dari ledakan mengerikan tersebut harus menjalani sisa hidup mereka dengan cacat fisik permanen. Kehilangan kaki atau tangan bukan hanya sekadar penderitaan fisik, melainkan juga hilangnya kemampuan untuk bekerja dan menafkahi keluarga secara layak. Fasilitas medis di sekitar perbatasan pun dilaporkan sering kali kewalahan menangani luka-luka parah yang diakibatkan oleh alat peledak tersebut.
Eskalasi konflik di Myanmar yang meluap hingga ke wilayah perbatasan Bangladesh telah menciptakan zona bahaya yang sangat berisiko bagi warga lokal. Meskipun pemerintah Bangladesh telah berulang kali melayangkan protes keras terkait penanaman ranjau di wilayah perbatasan, situasi di lapangan tetap mencekam dan belum menunjukkan tanda-tanda mereda, sementara jumlah korban terus bertambah.
Komunitas internasional kini didesak untuk memberikan perhatian lebih serius terhadap krisis kemanusiaan yang terjadi di perbatasan ini. Perlindungan terhadap warga sipil harus menjadi prioritas utama agar tidak ada lagi nyawa yang melayang atau masa depan yang hancur akibat senjata sisa perang yang kejam ini. Upaya pembersihan ranjau dan bantuan rehabilitasi bagi para korban sangat mendesak untuk segera dilakukan.
Editor: SnanePapua
