SNANEPAPUA.COM – Krisis kemanusiaan di Jalur Gaza kembali memakan korban jiwa dari kalangan paling rentan. Seorang bayi Palestina dilaporkan meninggal dunia akibat suhu dingin yang membeku, menandai kematian bayi keempat sejak November lalu di tengah kondisi cuaca ekstrem yang melanda wilayah tersebut.
Kematian tragis ini terjadi saat sistem kesehatan di Gaza berada di ambang kehancuran total. Para dokter di berbagai fasilitas medis terus berjuang melawan pemadaman listrik yang berkepanjangan. Kondisi ini sangat fatal karena energi listrik sangat dibutuhkan untuk menjaga inkubator tetap berfungsi bagi bayi-bayi yang membutuhkan perawatan intensif.
Di luar rumah sakit, ribuan keluarga pengungsi harus menghadapi kenyataan pahit tinggal di tenda-tenda darurat yang tidak memadai. Banyak dari tenda tersebut kini terendam banjir akibat curah hujan yang tinggi, membuat para penghuninya, termasuk anak-anak kecil, terpapar langsung pada suhu udara yang sangat rendah tanpa perlindungan yang memadai.
Kurangnya pasokan bahan bakar dan bantuan logistik akibat blokade yang terus berlanjut semakin memperparah penderitaan warga. Upaya untuk menghangatkan diri hampir mustahil dilakukan tanpa adanya sumber energi, sementara pakaian hangat dan selimut menjadi barang langka yang sulit didapatkan oleh keluarga yang telah kehilangan segalanya.
Situasi ini menuntut perhatian serius dan aksi nyata dari dunia internasional untuk segera menyalurkan bantuan kemanusiaan yang mendesak. Jika tidak ada intervensi segera, musim dingin yang masih berlangsung dikhawatirkan akan terus merenggut nyawa warga sipil yang terjebak dalam kondisi hidup yang tidak manusiawi di Jalur Gaza.
Editor: SnanePapua
