SNANEPAPUA.COM – Pemerintah transisi Suriah yang baru saja terbentuk secara resmi memulai langkah ambisius untuk membangun kembali angkatan bersenjata negara tersebut dari nol. Setelah bertahun-tahun dilanda konflik yang menghancurkan struktur keamanan nasional, upaya ini dipandang sebagai langkah krusial untuk memulihkan kedaulatan dan stabilitas di wilayah yang masih sangat rentan terhadap gejolak internal maupun eksternal.
Proses rekonstruksi militer ini bukanlah perkara mudah, mengingat warisan kehancuran yang ditinggalkan oleh rezim sebelumnya. Pemerintah sementara harus menghadapi kenyataan pahit bahwa sebagian besar infrastruktur militer, rantai komando yang terorganisir, hingga moral personel telah terkikis habis selama masa perang saudara yang berkepanjangan dan melelahkan.
Salah satu tantangan utama yang dihadapi adalah kerumitan dalam proses integrasi berbagai kelompok bersenjata yang sebelumnya beroperasi secara independen di berbagai wilayah. Menyatukan faksi-faksi ini ke dalam satu komando nasional yang profesional memerlukan negosiasi politik yang intens serta sistem penyaringan yang sangat ketat guna memastikan loyalitas penuh terhadap negara, bukan lagi kepada kelompok atau ideologi tertentu.
Selain masalah personel, keterbatasan sumber daya finansial dan ketergantungan pada bantuan internasional menjadi hambatan serius yang tidak bisa diabaikan. Membangun kembali persenjataan modern serta sistem pertahanan udara yang mumpuni memerlukan investasi yang sangat besar, sementara prioritas anggaran negara saat ini juga harus dialokasikan secara mendesak untuk bantuan kemanusiaan dan pemulihan infrastruktur sipil yang hancur.
Para pengamat internasional menilai bahwa keberhasilan Suriah dalam membangun kembali militernya akan menjadi tolok ukur utama bagi masa depan perdamaian di kawasan Timur Tengah. Jika proses ini gagal, dikhawatirkan akan terjadi kekosongan kekuasaan di sektor keamanan yang dapat memicu kembali munculnya kelompok-kelompok ekstremis yang mengancam stabilitas regional secara lebih luas.
Editor: SnanePapua
