SNANEPAPUA.COM – Narasi media terkait serangan Amerika Serikat terhadap Venezuela kini menjadi sorotan tajam bagi para pengamat jurnalistik internasional. Laporan terbaru mengungkapkan bagaimana pemerintahan Donald Trump menggunakan retorika khusus untuk membentuk opini publik global secara masif. Pola komunikasi yang digunakan dinilai sangat terukur guna melegitimasi tindakan militer tersebut di mata dunia internasional.
Penggunaan bahasa yang khas ala Trump, atau yang sering disebut sebagai ‘Trumpian language’, mendominasi pemberitaan di berbagai kanal media Barat. Hal ini menciptakan kerangka berpikir yang seolah-olah membenarkan intervensi tersebut sebagai langkah yang tidak terhindarkan. Para kritikus melihat adanya upaya sistematis dalam mengemas agresi militer menjadi sebuah misi penyelamatan demokrasi yang heroik demi kepentingan nasional.
Selain retorika politik, peran media arus utama juga menjadi poin krusial dalam analisis ini. Narasi yang sudah diprediksi sebelumnya, seperti penekanan pada krisis kemanusiaan yang ekstrem dan kegagalan rezim penguasa di Venezuela, terus digaungkan secara berulang-ulang. Pengulangan narasi ini berfungsi secara efektif untuk memperkuat sentimen negatif terhadap pemerintah Venezuela sekaligus meredam kritik terhadap tindakan militer AS.
Fenomena ini menunjukkan betapa kuatnya pengaruh kekuasaan dalam mengendalikan arus informasi di era digital saat ini. Dengan menguasai narasi, sebuah pemerintahan dapat dengan mudah mengarahkan dukungan domestik maupun internasional untuk agenda politik luar negerinya. Serangan terhadap kedaulatan sebuah negara seringkali diawali dengan serangan informasi yang masif untuk melemahkan posisi target di mata publik global.
Kejadian ini menjadi pelajaran berharga bagi masyarakat dunia untuk lebih kritis dalam memilah informasi yang disajikan oleh berbagai platform media. Memahami agenda di balik sebuah pemberitaan adalah kunci utama untuk melihat realitas politik yang sebenarnya di balik konflik antarnegara yang kompleks. Transparansi dan keberimbangan informasi tetap menjadi tantangan besar dalam jurnalisme konflik di masa depan.
Editor: SnanePapua
