SNANEPAPUA.COM – Petenis nomor satu dunia, Aryna Sabalenka, melontarkan kritik tajam terhadap otoritas tenis global terkait pengaturan jadwal turnamen yang dianggapnya sudah di luar batas kewajaran. Sabalenka secara terbuka menyebut beban kerja yang dibebankan kepada para pemain saat ini sebagai sesuatu yang ‘gila’ dan tidak mempertimbangkan kesejahteraan atlet.
Kekecewaan ini muncul seiring dengan semakin padatnya kalender kompetisi internasional yang memaksa para petenis top untuk terus bertanding tanpa jeda istirahat yang memadai. Menurut Sabalenka, intensitas turnamen yang sangat tinggi ini tidak hanya menguras tenaga, tetapi juga meningkatkan risiko cedera serius yang dapat mengancam keberlanjutan karier profesional mereka.
Sebagai bentuk protes dan upaya perlindungan diri, bintang tenis asal Belarusia tersebut menyatakan niatnya untuk kembali absen dari sejumlah agenda turnamen sepanjang tahun ini. Sabalenka menegaskan bahwa dirinya lebih memilih untuk memprioritaskan pemulihan fisik dan mental daripada harus memaksakan diri mengikuti setiap kompetisi yang dijadwalkan oleh pihak penyelenggara.
Langkah berani ini bukannya tanpa konsekuensi. Sabalenka menyadari sepenuhnya bahwa keputusannya untuk melewatkan turnamen wajib dapat berujung pada sanksi berat, mulai dari denda finansial yang besar hingga pengurangan poin peringkat dunia yang signifikan. Namun, ia menyatakan siap menghadapi segala risiko tersebut demi menjaga kebugaran tubuhnya dalam jangka panjang.
Pernyataan keras dari peringkat satu dunia ini diharapkan menjadi alarm bagi para pemangku kepentingan di dunia tenis untuk segera mengevaluasi struktur kompetisi mereka. Keseimbangan antara kepentingan komersial dan kesehatan pemain menjadi isu krusial yang perlu segera diselesaikan agar kualitas olahraga tenis tetap terjaga tanpa harus mengorbankan para atletnya.
Editor: SnanePapua
