Januari 13, 2026

Rencana Donald Trump Batasi Bunga Kartu Kredit 10% Picu Protes Perbankan, Dinilai Berisiko Fatal

SNANEPAPUA.COM – Rencana ambisius mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, untuk membatasi suku bunga kartu kredit maksimal sebesar 10 persen kini tengah menjadi sorotan tajam. Langkah yang awalnya dipandang sebagai upaya meringankan beban finansial masyarakat ini, justru menuai reaksi keras dari kalangan internal perbankan yang menilai kebijakan tersebut memiliki jalur implementasi yang tidak jelas serta risiko yang sangat merusak bagi ekosistem keuangan.

Para petinggi bank dan pakar industri memperingatkan bahwa batasan bunga 10 persen akan membuat sebagian besar sektor kartu kredit menjadi tidak menguntungkan. Hal ini terutama berdampak pada layanan bagi nasabah yang memiliki skor kredit di bawah rata-rata, yang selama ini bergantung pada akses pinjaman untuk kebutuhan mendesak mereka.

Menurut laporan dari sumber perbankan, kebijakan ini berpotensi memaksa lembaga keuangan untuk memperketat standar pemberian kredit secara drastis. Jika margin keuntungan ditekan hingga batas minimal, bank kemungkinan besar akan berhenti menerbitkan kartu kredit kepada jutaan warga yang dianggap berisiko tinggi, sehingga memutus akses mereka ke sistem keuangan formal.

Selain ancaman terhadap profitabilitas, para analis juga menyoroti ketidakpastian hukum dalam penegakan aturan tersebut. Hingga saat ini, belum ada mekanisme yang jelas mengenai bagaimana pemerintah dapat memaksakan batasan suku bunga tersebut tanpa menghadapi tantangan hukum yang panjang di pengadilan, mengingat kewenangan regulasi perbankan yang kompleks di Amerika Serikat.

Dampak ‘menghancurkan’ yang dikhawatirkan oleh para pelaku industri tidak hanya berhenti pada penutupan akses kredit, tetapi juga pada potensi perlambatan ekonomi secara keseluruhan. Tanpa fleksibilitas suku bunga, inovasi dalam produk keuangan bagi konsumen menengah ke bawah diprediksi akan terhenti total dalam beberapa tahun ke depan.

Cek Sumber Asli

Editor: SnanePapua