Januari 11, 2026

Refleksi Mendalam: Menelusuri Jejak Empati Swedia yang Kini Kian Memudar

SNANEPAPUA.COM – Perubahan lanskap sosial dan politik di Swedia kini tengah menjadi sorotan tajam, terutama bagi mereka yang pernah merasakan kehangatan negara tersebut di masa lalu. Seorang mantan pengungsi asal Bosnia yang tiba di Swedia pada tahun 1993 mengungkapkan kerinduannya terhadap sosok negara yang dulu dikenal sangat terbuka dan penuh empati. Namun, seiring berjalannya waktu, wajah Swedia yang ramah tersebut seolah memudar dan berganti dengan realitas yang jauh berbeda dari ingatan masa lalu.

Pada awal dekade 90-an, Swedia menjadi simbol harapan bagi ribuan orang yang melarikan diri dari konflik berdarah di Balkan. Kebijakan pintu terbuka yang diterapkan pemerintah saat itu tidak hanya memberikan perlindungan fisik, tetapi juga rasa diterima sebagai bagian dari masyarakat. Empati yang tulus menjadi fondasi utama dalam interaksi sosial antara warga lokal dan para pendatang yang tengah mencari suaka untuk memulai hidup baru.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, narasi yang berkembang di Swedia telah mengalami pergeseran signifikan. Munculnya sentimen anti-imigran dan penguatan kelompok politik sayap kanan telah mengubah cara pandang masyarakat terhadap isu pengungsian secara drastis. Apa yang dulu dianggap sebagai kewajiban kemanusiaan universal, kini sering kali dipandang sebagai beban ekonomi dan tantangan bagi identitas nasional, yang memicu perdebatan sengit di berbagai ruang publik.

Kondisi ini memicu pertanyaan besar mengenai di mana hilangnya nilai-nilai kemanusiaan yang pernah menjadi kebanggaan negara Nordik tersebut. Transformasi ini tidak hanya berdampak pada kebijakan pemerintah di tingkat atas, tetapi juga merambah ke kehidupan sehari-hari, di mana rasa saling percaya antarwarga mulai terkikis. Bagi mereka yang pernah merasakan langsung kebaikan Swedia di masa lalu, perubahan ini terasa seperti kehilangan identitas dari sebuah bangsa yang pernah dianggap paling progresif di dunia.

Harapan untuk kembalinya Swedia yang inklusif tetap ada, meskipun tantangan yang dihadapi saat ini tidaklah mudah. Diperlukan dialog yang lebih mendalam dan rekonsiliasi nilai untuk memulihkan kembali rasa empati yang kini terasa hilang di tengah arus populisme. Masa depan Swedia sebagai negara yang harmonis sangat bergantung pada kemampuan masyarakatnya untuk merangkul kembali keragaman dengan cara yang lebih bermartabat dan manusiawi.

Cek Sumber Asli

Editor: SnanePapua