SNANEPAPUA.COM – Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri mengungkapkan sebuah fakta yang sangat mengkhawatirkan terkait dampak global dari aksi kekerasan di tanah air. Berdasarkan hasil investigasi terbaru, aksi ledakan yang sempat terjadi di SMAN 72 Jakarta ternyata telah menjadi inspirasi bagi sekelompok remaja di Moskow, Rusia, untuk merencanakan aksi teror serupa di negara mereka.
Fenomena ini menunjukkan bahwa penyebaran ideologi radikal dan metode aksi terorisme kini tidak lagi mengenal batas negara. Densus 88 menyebutkan bahwa dokumentasi serta narasi mengenai kejadian di SMAN 72 menyebar dengan cepat melalui berbagai platform digital dan media sosial. Konten-konten tersebut kemudian diakses dan dipelajari oleh para pemuda di luar negeri yang memiliki kecenderungan radikal.
Pihak berwenang di Rusia dikabarkan telah melakukan tindakan preventif dan penindakan terhadap sejumlah remaja yang terindikasi terpengaruh oleh insiden di Jakarta tersebut. Hubungan antara kedua kejadian ini ditemukan setelah otoritas keamanan setempat melakukan analisis mendalam terhadap jejak digital dan pola komunikasi para pelaku di Moskow. Mereka diketahui menjadikan pola serangan di sekolah tersebut sebagai referensi teknis dalam menyusun rencana mereka.
Menanggapi hal ini, Polri melalui Densus 88 terus memperkuat koordinasi dengan otoritas keamanan internasional untuk memantau pergerakan kelompok-kelompok yang memanfaatkan aksi teror di Indonesia sebagai materi propaganda. Upaya deradikalisasi serta pengawasan ketat di ruang siber kini menjadi prioritas utama guna mencegah terjadinya ‘copycat crime’ atau kejahatan peniruan yang dilakukan oleh generasi muda di berbagai belahan dunia.
Kejadian ini menjadi pengingat keras bahwa ancaman terorisme saat ini bersifat sangat dinamis dan saling terhubung secara global. Diperlukan kerja sama lintas negara yang lebih erat serta edukasi yang masif untuk membendung arus informasi negatif yang dapat memicu radikalisasi di tingkat akar rumput, terutama bagi kalangan pelajar yang sangat rentan terpapar konten ekstremis di internet.
Editor: SnanePapua
