Januari 9, 2026

Mengenal Gum Arabic: Komoditas Global yang Kini Menjadi ‘Bahan Bakar’ Perang di Sudan

SNANEPAPUA.COM – Sudan, sebuah negara yang pernah mendominasi pasar global untuk komoditas gum arabic, kini tengah terperosok dalam konflik bersenjata yang kian rumit. Komoditas yang menjadi bahan baku utama dalam industri makanan dan minuman dunia ini kini dituding menjadi salah satu faktor yang memperpanjang napas peperangan di negara tersebut, mengingat nilai ekonomisnya yang sangat tinggi di pasar internasional.

Sebelum perang saudara yang menghancurkan meletus, Sudan tercatat sebagai eksportir gum arabic terbesar di dunia. Dengan estimasi pangsa pasar mencapai 70 hingga 80 persen dari total produksi global, stabilitas industri manufaktur dunia sangat bergantung pada kelancaran pasokan dari wilayah-wilayah di Sudan. Namun, kekayaan alam ini kini justru menjadi rebutan faksi-faksi yang bertikai untuk memperkuat posisi mereka.

Gum arabic sendiri bukan sekadar getah pohon akasia biasa; ia adalah elemen krusial yang digunakan dalam pembuatan soda, permen, hingga produk farmasi. Permintaan yang tetap tinggi dari perusahaan multinasional di tengah konflik membuat perdagangan getah ini tetap berjalan, namun dengan pengawasan dan kendali yang beralih ke tangan kelompok militer atau milisi bersenjata untuk membiayai operasi mereka.

Konflik yang berkepanjangan ini secara otomatis telah mengganggu rantai pasok global secara signifikan. Para pelaku industri internasional kini menghadapi ketidakpastian pasokan, sementara para petani lokal di Sudan terjepit di tengah pertempuran yang membara. Jalur-jalur perdagangan yang dulunya aman kini dikuasai oleh faksi militer, yang menyebabkan harga melonjak dan risiko distribusi yang semakin berbahaya bagi warga sipil.

Situasi tragis ini menggambarkan bagaimana sumber daya alam yang seharusnya menjadi pilar kesejahteraan rakyat justru berubah menjadi ‘kutukan’ di tengah ambisi kekuasaan. Tanpa adanya solusi diplomatik dan penyelesaian politik yang konkret, gum arabic dikhawatirkan akan terus menjadi mesin ekonomi yang membiayai kehancuran masa depan rakyat Sudan secara perlahan.

Cek Sumber Asli

Editor: SnanePapua