SNANEPAPUA.COM – Sudan tengah berada dalam cengkeraman konflik yang berkepanjangan, namun di balik desingan peluru, terdapat satu komoditas alam yang secara tak terduga menjadi bahan bakar ekonomi perang tersebut. Getah arab atau gum arabic, bahan alami yang sering kita temukan dalam berbagai produk sehari-hari, kini dilaporkan oleh para peneliti menjadi salah satu faktor kunci yang memperkeruh situasi keamanan di negara tersebut.
Getah arab merupakan eksudat dari pohon akasia yang tumbuh subur di wilayah sabuk gum Afrika, dengan Sudan sebagai produsen terbesar di dunia. Bahan ini memiliki kegunaan yang sangat luas, mulai dari industri makanan sebagai pengental dan penstabil, industri farmasi untuk pembuatan kapsul, hingga industri manufaktur seperti cat dan tinta. Kehadirannya yang krusial membuat komoditas ini tetap dicari oleh pasar global meskipun negara tersebut sedang dilanda krisis hebat.
Para peneliti dan pengamat internasional mengungkapkan bahwa kendali atas perdagangan getah arab telah menjadi sumber pendanaan penting bagi pihak-pihak yang bertikai di Sudan. Karena permintaannya yang stabil di pasar internasional, penguasaan atas jalur distribusi dan lahan pohon akasia memberikan keuntungan finansial yang signifikan. Hal ini menciptakan insentif bagi kelompok bersenjata untuk terus mempertahankan wilayah kekuasaan mereka demi mengamankan aliran uang dari ekspor komoditas ini.
Ironisnya, meskipun dunia sangat bergantung pada pasokan getah arab dari Sudan, eksploitasi komoditas ini justru memperpanjang penderitaan rakyat sipil. Pendapatan yang seharusnya bisa digunakan untuk pembangunan negara justru diduga mengalir ke kantong-kantong militer dan milisi. Keterkaitan antara produk konsumen global dengan konflik lokal ini memicu perdebatan mengenai etika perdagangan internasional dan perlunya pengawasan yang lebih ketat terhadap rantai pasok dari wilayah konflik.
Hingga saat ini, belum ada solusi jangka pendek yang mampu memutus rantai ketergantungan perang terhadap perdagangan getah arab secara total. Selama dunia internasional masih memerlukan bahan ini tanpa adanya mekanisme sertifikasi yang transparan, Sudan kemungkinan besar akan tetap terjebak dalam siklus kekerasan yang didanai oleh kekayaan alamnya sendiri. Masyarakat global kini dituntut untuk lebih peduli terhadap asal-usul bahan baku yang mereka konsumsi setiap hari.
Editor: SnanePapua
