Januari 7, 2026

Mengenal Doktrin Monroe: Kebijakan Abad ke-19 yang Kembali Digaungkan Trump Terkait Krisis Venezuela

SNANEPAPUA.COM – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Venezuela kembali memicu perbincangan mengenai sebuah kebijakan luar negeri kuno yang dikenal sebagai Doktrin Monroe. Presiden Donald Trump baru-baru ini mengacu pada doktrin tersebut dalam konteks intervensi AS terhadap situasi politik di Venezuela, yang memicu reaksi keras dari berbagai pihak internasional karena dianggap membangkitkan kembali semangat imperialisme di kawasan tersebut.

Doktrin Monroe sendiri bukanlah hal baru dalam sejarah diplomasi Amerika Serikat. Kebijakan ini pertama kali dirumuskan pada tahun 1823 oleh Presiden James Monroe dalam pidato tahunannya di hadapan Kongres. Pada intinya, doktrin ini menyatakan bahwa segala bentuk campur tangan oleh kekuatan Eropa atau kekuatan asing lainnya dalam urusan politik di benua Amerika akan dianggap sebagai tindakan permusuhan terhadap Amerika Serikat.

Tujuan utama dari kebijakan ini pada awalnya adalah untuk mengukuhkan pengaruh Washington di seluruh wilayah Amerika, baik Utara maupun Selatan. Seiring berjalannya waktu, doktrin ini sering digunakan oleh pemerintah Amerika Serikat untuk membenarkan intervensi militer dan politik di negara-negara tetangganya di Amerika Latin, dengan alasan menjaga stabilitas dan kedaulatan wilayah tersebut dari pengaruh luar yang merugikan kepentingan nasional AS.

Dalam konteks krisis Venezuela saat ini, penyebutan Doktrin Monroe oleh pemerintahan Trump menunjukkan upaya AS untuk kembali menegaskan dominasinya di kawasan tersebut. Langkah ini dipandang sebagai peringatan tegas bagi negara-negara besar lainnya, seperti Rusia dan China, agar tidak memperluas pengaruh mereka di wilayah yang dianggap sebagai ‘halaman belakang’ Amerika Serikat, terutama di tengah gejolak ekonomi dan politik yang melanda Caracas.

Meskipun telah berusia lebih dari dua abad, Doktrin Monroe tetap menjadi instrumen politik yang kontroversial namun sangat kuat dalam diskursus hubungan internasional. Penggunaannya kembali dalam krisis modern membuktikan bahwa strategi geopolitik klasik masih memiliki peran signifikan dalam menentukan arah kebijakan luar negeri negara adidaya tersebut, sekaligus menjadi pengingat akan sejarah panjang pengaruh AS di Amerika Latin.

Cek Sumber Asli

Editor: SnanePapua