SNANEPAPUA.COM – Keputusan pemerintahan Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump sering kali mengejutkan dunia internasional, terutama dalam hal kebijakan luar negeri yang tidak terduga. Salah satu langkah yang menjadi sorotan tajam baru-baru ini adalah ketertarikan Washington terhadap sosok Delcy Rodríguez, Wakil Presiden Venezuela yang merupakan orang kepercayaan Nicolas Maduro. Langkah ini memicu tanda tanya besar di kalangan analis politik global mengenai arah diplomasi Amerika di Amerika Latin.
Delcy Rodríguez bukanlah sosok sembarangan di panggung politik Amerika Latin. Sebagai tangan kanan Maduro, ia dikenal memiliki pengaruh yang sangat kuat dalam mempertahankan stabilitas rezim di tengah tekanan sanksi ekonomi yang berat dari dunia internasional. Ketertarikan Trump terhadap Rodríguez dianggap sebagai sebuah anomali, mengingat sejarah panjang ketegangan dan retorika keras antara Amerika Serikat dan pemerintah sosialis Venezuela selama beberapa tahun terakhir.
Yang lebih mengejutkan para pengamat adalah bagaimana pilihan ini seolah-olah mengesampingkan tokoh-tokoh lain yang memiliki reputasi internasional lebih mentereng, termasuk para pemenang Nobel yang biasanya mendapat dukungan penuh dari blok Barat. Analisis mendalam menunjukkan bahwa Trump mungkin melihat adanya celah pragmatis yang bisa dimanfaatkan melalui jalur komunikasi langsung dengan tokoh kunci di lingkaran dalam Maduro, daripada melalui perantara diplomatik tradisional.
Beberapa pakar hubungan internasional berpendapat bahwa pendekatan ini merupakan bagian dari strategi ‘Realpolitik’ khas Trump. Alih-alih mengandalkan retorika hak asasi manusia atau diplomasi konvensional, Trump cenderung mencari negosiator yang memiliki kekuatan nyata dan kendali di lapangan. Dalam konteks Venezuela, Rodríguez dianggap memiliki otoritas yang lebih konkret untuk melakukan kesepakatan dibandingkan tokoh oposisi yang mungkin hanya memiliki dukungan simbolis tanpa kekuatan militer atau birokrasi.
Perubahan dinamika ini tentu saja membawa implikasi besar bagi masa depan hubungan diplomatik di kawasan tersebut. Meskipun banyak pihak yang mengkritik langkah ini sebagai bentuk pengabaian terhadap nilai-nilai demokrasi universal, namun bagi sebagian lainnya, ini dilihat sebagai upaya realistis dalam memecahkan kebuntuan politik yang telah berlangsung selama bertahun-tahun di Venezuela. Masa depan hubungan kedua negara kini bergantung pada sejauh mana komunikasi ini dapat menghasilkan stabilitas kawasan.
Editor: SnanePapua
