SNANEPAPUA.COM – Pakistan kini tengah memperkuat posisinya di pasar alutsista global melalui strategi diplomasi pertahanan yang sangat agresif. Salah satu produk unggulan yang menjadi primadona dalam beberapa waktu terakhir adalah jet tempur JF-17 Thunder, yang dilaporkan mulai menarik minat serius dari berbagai negara, termasuk Bangladesh.
Ketertarikan internasional terhadap JF-17 tidak lepas dari performa pesawat tersebut dalam berbagai simulasi maupun konflik nyata. Setelah serangkaian ketegangan udara antara Pakistan dan India beberapa waktu lalu, jet tempur hasil kolaborasi antara Pakistan Aeronautical Complex dan Chengdu Aircraft Corporation China ini membuktikan efektivitasnya di medan tempur, menjadikannya opsi menarik bagi negara-negara yang ingin memperkuat pertahanan udara mereka.
Islamabad secara aktif mempromosikan JF-17 sebagai alternatif yang jauh lebih terjangkau dibandingkan jet tempur buatan Barat seperti F-16 atau produk dari Rusia. Dengan biaya operasional yang lebih rendah namun tetap dilengkapi dengan teknologi radar canggih serta sistem persenjataan modern, JF-17 menawarkan proposisi nilai yang sangat kompetitif, terutama bagi negara-negara berkembang dengan anggaran pertahanan terbatas.
Bangladesh menjadi salah satu fokus utama dalam strategi penjualan ini, mengingat kebutuhan negara tersebut untuk memodernisasi angkatan udaranya. Langkah ini dipandang sebagai upaya strategis untuk mempererat hubungan bilateral antara kedua negara di Asia Selatan tersebut, sekaligus mengurangi ketergantungan pada pemasok senjata tradisional lainnya. Keberhasilan kesepakatan ini diprediksi akan memberikan dampak signifikan terhadap keseimbangan kekuatan udara di kawasan.
Selain Bangladesh, sejumlah negara lain di Afrika dan Timur Tengah juga mulai melirik jet tempur ini sebagai tulang punggung pertahanan udara mereka. Keberhasilan JF-17 di pasar internasional mencerminkan pergeseran dalam peta industri pertahanan dunia, di mana produsen non-tradisional mulai mampu menantang dominasi produsen pesawat tempur konvensional melalui inovasi dan efisiensi biaya yang tepat sasaran.
Editor: SnanePapua
