SNANEPAPUA.COM – Di tengah arus informasi yang kian deras di era digital, pertanyaan mendasar mengenai siapa yang berhak menentukan sebuah kebenaran menjadi semakin relevan dan mendesak untuk dijawab. Fenomena ini memicu perdebatan global mengenai otoritas informasi di tengah kepungan disinformasi dan hoaks yang menyebar dengan sangat cepat melalui berbagai platform media sosial tanpa filter yang memadai.
Isu krusial ini menjadi sorotan utama dalam forum Doha Debates, di mana para ahli dan praktisi media berkumpul untuk membedah kompleksitas kebenaran di ruang siber. Mereka menyoroti bagaimana algoritma canggih dan kepentingan korporasi teknologi besar sering kali menjadi penentu utama dalam menyaring informasi yang dikonsumsi oleh masyarakat luas setiap harinya, seringkali melampaui peran institusi tradisional.
Perusahaan teknologi raksasa kini memegang peran ganda yang kontroversial sebagai penyedia platform sekaligus penjaga gerbang informasi. Namun, kebijakan moderasi konten yang mereka terapkan sering kali dianggap subjektif dan tidak transparan, sehingga menimbulkan kekhawatiran akan adanya penyensoran terselubung atau penguatan narasi tertentu yang belum tentu memiliki akurasi faktual yang dapat dipertanggungjawabkan.
Di sisi lain, peran individu sebagai konsumen informasi juga tidak kalah penting dalam ekosistem digital ini. Literasi digital menjadi kunci utama agar masyarakat tidak mudah terombang-ambing oleh berita palsu yang dikemas sedemikian rupa agar terlihat nyata. Kemampuan untuk melakukan verifikasi mandiri dan berpikir kritis terhadap setiap informasi yang diterima merupakan benteng pertahanan terakhir dalam menjaga integritas kebenaran.
Pada akhirnya, penentuan kebenaran di era digital bukanlah tanggung jawab satu pihak semata, melainkan hasil kolaborasi antara regulasi pemerintah yang adil, etika perusahaan teknologi, dan kesadaran publik yang tinggi. Tanpa adanya sinergi yang kuat, ruang digital akan terus menjadi medan tempur persepsi yang membingungkan dan berpotensi memecah belah tatanan sosial di masa depan.
Editor: SnanePapua
