SNANEPAPUA.COM – Fenomena mogok makan kembali menjadi sorotan dunia medis dan aktivisme internasional setelah tiga aktivis asal Inggris nekat melakukan aksi protes ekstrem tersebut hingga melewati batas kemampuan bertahan hidup manusia pada umumnya. Berdasarkan estimasi medis yang berlaku selama ini, tubuh manusia biasanya hanya mampu bertahan tanpa asupan makanan dalam rentang waktu 45 hingga 61 hari sebelum mengalami kegagalan fungsi total.
Secara biologis, tubuh manusia memiliki mekanisme pertahanan yang sangat kompleks saat tidak menerima nutrisi dari luar. Pada tahap awal, tubuh akan membakar cadangan glikogen di hati dan otot untuk mendapatkan energi instan. Namun, cadangan ini biasanya habis dalam waktu singkat, memaksa metabolisme tubuh untuk beralih ke fase ketosis, di mana lemak tubuh mulai dibakar untuk memberi asupan energi bagi otak dan organ vital lainnya.
Memasuki fase yang lebih ekstrem, ketika cadangan lemak mulai menipis secara drastis, tubuh akan masuk ke kondisi kritis yang dikenal sebagai pemecahan protein jaringan. Pada tahap ini, tubuh secara harfiah mulai ‘memakan’ dirinya sendiri dengan mengambil protein dari otot dan organ-organ internal. Hal ini mengakibatkan atrofi otot yang parah dan penurunan fungsi organ secara signifikan, yang seringkali tidak dapat dipulihkan kembali.
Ketika aksi mogok makan menyentuh angka 70 hari, risiko kematian meningkat secara eksponensial. Pelaku aksi biasanya akan mengalami gangguan penglihatan, kehilangan pendengaran, koordinasi motorik yang buruk, hingga kegagalan organ multipel. Kondisi yang dialami oleh para aktivis Inggris ini menantang pemahaman konvensional ilmu kedokteran mengenai daya tahan fisik manusia di bawah tekanan kelaparan yang berkepanjangan.
Aksi ekstrem ini dilakukan bukan tanpa alasan, melainkan sebagai bentuk protes keras untuk menarik perhatian publik dan otoritas terkait terhadap isu yang mereka perjuangkan. Meskipun taruhannya adalah nyawa, keteguhan mereka untuk melampaui batas batas biologis menunjukkan urgensi dari pesan politik yang ingin disampaikan kepada dunia internasional.
Editor: SnanePapua
