Januari 9, 2026

Mampukah Suriah Bersatu Kembali? Tantangan Besar di Tengah Intervensi Asing dan Krisis Kepercayaan

SNANEPAPUA.COM – Masa depan Suriah kini berada di persimpangan jalan yang krusial. Setelah bertahun-tahun didera konflik berkepanjangan, pertanyaan besar mengenai apakah negara ini dapat kembali bersatu menjadi sorotan dunia internasional. Ketidakstabilan yang semakin mendalam serta keraguan dari berbagai kelompok minoritas menjadi ujian berat bagi pemerintahan di Damaskus dalam upaya mempertahankan kendali atas wilayah yang terfragmentasi.

Kondisi di lapangan menunjukkan bahwa pemulihan kedaulatan penuh bukanlah perkara mudah. Fragmentasi politik dan militer telah menciptakan sekat-sekat wilayah yang sulit ditembus. Selain itu, rasa tidak percaya di antara kelompok-kelompok etnis dan agama yang berbeda semakin memperumit proses rekonsiliasi nasional yang selama ini diupayakan oleh berbagai pihak, mengingat luka lama akibat perang yang belum sepenuhnya sembuh.

Campur tangan asing tetap menjadi faktor penentu yang signifikan dalam dinamika kekuasaan di Suriah. Berbagai aktor internasional dengan kepentingan strategis masing-masing terus memberikan pengaruh, baik secara langsung maupun melalui proksi. Kehadiran kekuatan luar ini tidak hanya memperpanjang ketegangan, tetapi juga seringkali menghalangi terciptanya solusi damai yang murni berasal dari keinginan internal rakyat Suriah sendiri.

Di sisi lain, Damaskus menghadapi tantangan domestik yang luar biasa dalam memulihkan kepercayaan publik. Krisis ekonomi yang mencekik, inflasi yang tinggi, serta infrastruktur yang hancur menuntut perhatian segera dari pemerintah. Tanpa adanya jaminan keamanan yang nyata dan perbaikan kesejahteraan bagi seluruh lapisan masyarakat, upaya untuk menyatukan kembali negara yang sudah terpecah-belah ini akan terus menemui jalan buntu yang sulit dipecahkan.

Pada akhirnya, masa depan persatuan Suriah sangat bergantung pada kemampuan para pemimpin dan pemangku kepentingan untuk merangkul semua elemen bangsa tanpa terkecuali. Diperlukan dialog inklusif yang mampu mengakomodasi aspirasi kelompok minoritas dan mengurangi ketergantungan pada kekuatan eksternal. Perjalanan menuju Suriah yang utuh dan berdaulat masih sangat panjang serta penuh dengan rintangan diplomatik yang memerlukan komitmen global yang tulus.

Cek Sumber Asli

Editor: SnanePapua