SNANEPAPUA.COM – Meskipun era kepemimpinan Nicolás Maduro secara resmi telah berakhir, suasana di berbagai penjuru Venezuela jauh dari kata pesta pora yang meriah. Alih-alih merayakan kebebasan yang telah lama dinanti, sebagian besar warga justru memilih untuk tetap diam dan bersembunyi di balik pintu rumah mereka masing-masing. Ketakutan yang telah mengakar selama bertahun-tahun tampaknya belum luntur meskipun sang pemimpin otoriter tersebut sudah tidak lagi memegang tampuk kekuasaan tertinggi di negara tersebut.
Alasan utama di balik sikap hati-hati yang ekstrem ini adalah keberadaan mesin represif yang dibangun oleh rezim Maduro yang dilaporkan masih berfungsi sepenuhnya di lapangan. Selama bertahun-tahun, aparat keamanan, intelijen, hingga kelompok paramiliter pro-pemerintah telah menciptakan sistem pengawasan yang sangat ketat terhadap masyarakat sipil. Banyak warga yang merasa khawatir bahwa struktur kekuasaan lama ini masih memiliki kemampuan dan niat untuk melakukan pembalasan terhadap siapa pun yang dianggap sebagai musuh politik.
Trauma kolektif yang dialami oleh masyarakat Venezuela tidak bisa hilang dalam semalam. Pengalaman pahit berupa penangkapan sewenang-wenang, kekerasan dalam aksi protes, hingga intimidasi harian telah meninggalkan luka psikologis yang mendalam bagi jutaan orang. Bagi mereka, pergantian pemimpin di tingkat atas tidak serta-merta menjamin keamanan di tingkat akar rumput, di mana kontrol sosial dan ancaman fisik masih dirasakan sangat nyata dan mencekam.
Selain faktor keamanan fisik, ketidakpastian mengenai masa depan transisi politik di negara kaya minyak tersebut juga menjadi pemicu utama kekhawatiran publik. Warga masih meraba-raba apakah institusi negara akan benar-benar mengalami reformasi total atau hanya berganti wajah dengan pola penindasan lama yang tetap dipertahankan. Ketidakjelasan ini membuat banyak orang lebih memilih untuk bersikap skeptis dan waspada daripada menunjukkan kegembiraan secara terbuka di ruang publik yang mungkin masih dipantau.
Situasi di Venezuela saat ini menjadi pengingat keras bahwa meruntuhkan sebuah rezim otoriter sering kali jauh lebih mudah daripada menghapus sistem penindasan yang telah terinstitusionalisasi selama puluhan tahun. Rakyat Venezuela kini berdiri di persimpangan jalan yang krusial, berharap akan perubahan demokrasi yang nyata sambil terus waspada terhadap bayang-bayang masa lalu yang belum sepenuhnya sirna dari kehidupan mereka sehari-hari.
Editor: SnanePapua
