Januari 26, 2026

Lebanon Seret Israel ke PBB: Laporkan 2.036 Pelanggaran Gencatan Senjata di Akhir 2025

SNANEPAPUA.COM – Situasi di perbatasan Lebanon dan Israel kembali memanas di meja diplomasi internasional. Pemerintah Lebanon secara resmi melayangkan pengaduan kepada Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyusul ribuan dokumentasi pelanggaran gencatan senjata yang diduga dilakukan oleh militer Israel. Langkah ini diambil sebagai bentuk protes keras atas apa yang disebut Lebanon sebagai pelecehan terhadap kedaulatan negara secara terus-menerus.

Ribuan Pelanggaran dalam Tiga Bulan

Dalam laporan resminya, pemerintah Lebanon mengungkapkan data yang mengejutkan. Mereka mengklaim telah mendokumentasikan sebanyak 2.036 pelanggaran kedaulatan yang dilakukan oleh Israel hanya dalam kurun waktu tiga bulan terakhir tahun 2025. Pelanggaran ini mencakup berbagai aspek, mulai dari pelanggaran wilayah udara oleh jet tempur dan drone, hingga aktivitas militer di sepanjang garis perbatasan yang melampaui batas-batas yang telah disepakati sebelumnya.

Lebanon menegaskan bahwa tindakan ini bukan sekadar insiden kecil, melainkan pola sistematis yang mengancam stabilitas kawasan. Pengaduan tersebut menekankan bahwa setiap pelanggaran harian yang dilakukan Israel memperlemah efektivitas perjanjian gencatan senjata yang selama ini diupayakan oleh komunitas internasional. Lebanon mendesak PBB untuk mengambil langkah konkret guna memastikan Israel menghormati resolusi-resolusi internasional yang berlaku.

Ketegangan yang Tak Kunjung Padam

Konflik antara Lebanon dan Israel memiliki akar sejarah yang sangat dalam dan kompleks. Meskipun gencatan senjata secara teknis berlaku, realitas di lapangan menunjukkan ketegangan yang konstan. Bagi Lebanon, pelanggaran wilayah udara oleh Israel tidak hanya merupakan masalah keamanan, tetapi juga gangguan psikologis bagi warga sipil dan penghinaan terhadap otoritas negara. Di sisi lain, Israel sering kali berdalih bahwa operasi mereka dilakukan untuk memantau aktivitas kelompok bersenjata yang dianggap mengancam keamanan nasional mereka.

Namun, angka 2.036 pelanggaran dalam 90 hari menunjukkan adanya eskalasi yang signifikan. Hal ini memicu kekhawatiran bahwa tanpa intervensi diplomatik yang kuat, gesekan-gesekan kecil di perbatasan dapat dengan mudah tersulut menjadi konflik terbuka yang lebih besar, yang akan berdampak destruktif bagi kedua belah pihak dan stabilitas Timur Tengah secara keseluruhan.

Analisis/Perspektif

Pengajuan pengaduan ke PBB oleh Lebanon ini merupakan strategi diplomasi untuk membangun tekanan internasional terhadap Israel. Namun, efektivitas dari langkah ini sangat bergantung pada kemauan politik negara-negara anggota Dewan Keamanan PBB. Secara historis, resolusi PBB terkait konflik di perbatasan ini sering kali sulit ditegakkan secara efektif di lapangan. Implikasi dari laporan ini menunjukkan bahwa gencatan senjata yang ada saat ini sangat rapuh. Jika PBB tidak mampu memberikan mekanisme pengawasan yang lebih ketat atau sanksi diplomatik yang nyata, maka pelanggaran-pelanggaran serupa kemungkinan besar akan terus berlanjut, menjadikan perjanjian damai hanya sekadar dokumen di atas kertas tanpa kekuatan hukum yang mengikat.

Kondisi ini juga mencerminkan kegagalan arsitektur keamanan regional dalam meredam provokasi. Bagi Lebanon, membawa masalah ini ke forum global adalah upaya terakhir untuk menunjukkan bahwa mereka tidak akan membiarkan kedaulatan mereka terus digerus tanpa perlawanan diplomatik.

Cek Sumber Asli

Editor: SnanePapua