SNANEPAPUA.COM – Krisis kesehatan yang menghancurkan kini tengah melanda kamp-kamp pengungsian di Sudan, di mana anak-anak dan warga lanjut usia dilaporkan meninggal dunia akibat wabah penyakit yang ditularkan melalui air. Situasi ini menambah daftar panjang penderitaan warga sipil yang terjebak dalam kondisi memprihatinkan di wilayah konflik tersebut.
Penyakit yang diidentifikasi sebagai bilharzia, atau dikenal juga sebagai skistosomiasis, menyebar dengan cepat di tengah kondisi sanitasi yang sangat buruk. Penyakit ini disebabkan oleh cacing parasit yang hidup di air tawar yang terkontaminasi, sering kali menyerang organ dalam penderitanya jika tidak segera ditangani secara medis dengan tepat.
Para pengungsi yang tinggal di kamp-kamp tersebut terpaksa menggunakan sumber air yang tidak layak konsumsi untuk kebutuhan sehari-hari, termasuk untuk minum, mandi, dan mencuci. Keterbatasan akses terhadap air bersih dan minimnya fasilitas kesehatan yang memadai membuat wabah ini sulit dikendalikan, sehingga angka kematian terus meningkat, terutama di kalangan kelompok rentan seperti balita.
Laporan dari lapangan menunjukkan bahwa fasilitas medis di sekitar lokasi pengungsian sudah tidak mampu lagi menampung jumlah pasien yang terus bertambah setiap harinya. Kurangnya pasokan obat-obatan esensial memperburuk keadaan, membuat penyakit yang sebenarnya bisa diobati ini menjadi ancaman maut bagi ribuan nyawa pengungsi yang tidak memiliki pilihan lain.
Komunitas internasional kini didesak untuk segera memberikan bantuan darurat berupa pasokan air bersih, sistem sanitasi yang layak, serta obat-obatan guna mencegah jatuhnya lebih banyak korban jiwa. Tanpa intervensi segera, krisis kesehatan di Sudan dikhawatirkan akan berkembang menjadi bencana kemanusiaan yang jauh lebih besar dan sulit dikendalikan di masa depan.
Editor: SnanePapua
