Januari 9, 2026

Kisah Haru Pengungsi Nigeria: Kembali ke Kota yang Hancur Demi Harapan Baru Setelah 10 Tahun Mengungsi

SNANEPAPUA.COM – Ribuan pengungsi di Nigeria mulai melangkah kembali ke tanah kelahiran mereka di Malam Fatori, Negara Bagian Borno, meskipun kota tersebut masih menyisakan puing-puing kehancuran akibat konflik berkepanjangan. Setelah satu dekade hidup dalam ketidakpastian di kamp-kamp pengungsian, para warga ini memilih untuk menghadapi risiko demi membangun kembali kehidupan yang sempat terhenti akibat serangan kelompok bersenjata.

Malam Fatori, yang dulunya merupakan pusat perdagangan yang ramai di dekat perbatasan Niger, kini menjadi simbol ketabahan manusia di tengah reruntuhan. Kota ini ditinggalkan oleh penduduknya sepuluh tahun yang lalu ketika pemberontakan mulai melancarkan serangan brutal yang memaksa ribuan orang melarikan diri untuk menyelamatkan nyawa mereka tanpa membawa harta benda sedikit pun.

“Kami harus hidup, kami harus berharap,” ungkap salah satu warga yang baru saja kembali ke tanah kelahirannya. Kalimat ini menjadi mantra bagi banyak orang yang kini berusaha membersihkan sisa-sisa rumah mereka yang hancur dengan peralatan seadanya. Meskipun infrastruktur dasar seperti listrik, sekolah, dan akses air bersih masih sangat terbatas, semangat untuk memulai kembali tampak kuat di mata para penyintas yang merindukan rumah.

Namun, kepulangan ini bukannya tanpa risiko yang besar. Ancaman dari kelompok bersenjata masih membayangi wilayah tersebut, menciptakan ketegangan antara keinginan untuk menetap dan kebutuhan akan keamanan yang mendesak. Pemerintah setempat memang terus berupaya memberikan jaminan keamanan melalui pengerahan personel militer, namun tantangan di lapangan tetaplah besar mengingat lokasi kota yang terisolasi secara geografis.

Perjalanan menuju pemulihan total bagi Malam Fatori diprediksi akan memakan waktu yang sangat lama dan membutuhkan bantuan internasional yang signifikan. Namun, keberanian para pengungsi untuk kembali di tengah ketidakpastian menjadi bukti nyata bahwa keinginan untuk pulang ke rumah seringkali lebih kuat daripada rasa takut akan konflik yang belum sepenuhnya reda.

Cek Sumber Asli

Editor: SnanePapua