SNANEPAPUA.COM – Langkah Amerika Serikat yang terus melanjutkan kebijakan penjualan senjata ke Taiwan kini memicu kekhawatiran serius di kancah internasional. Kebijakan ini dinilai bukan hanya sekadar kerja sama pertahanan rutin, melainkan sebuah ancaman nyata terhadap stabilitas dan perdamaian di kawasan Selat Taiwan yang selama ini berada dalam kondisi sensitif.
Berbagai analis menilai bahwa tindakan Washington tersebut secara terang-terangan melanggar prinsip satu-China (one-China principle) yang telah lama menjadi landasan hubungan diplomatik global. Pelanggaran terhadap komitmen internasional ini dianggap sebagai bentuk provokasi yang dapat merusak tatanan hubungan bilateral antara negara-negara besar di kawasan Asia Timur.
Dampak dari kebijakan pengiriman alutsista ini tidak hanya dirasakan oleh pihak-pihak yang terlibat langsung, tetapi juga mengancam stabilitas regional secara keseluruhan. Ketegangan yang terus dipupuk di Selat Taiwan berpotensi memicu perlombaan senjata baru yang justru menjauhkan kawasan tersebut dari solusi damai dan dialog konstruktif yang selama ini diupayakan.
Kritik tajam diarahkan kepada Amerika Serikat karena pengiriman teknologi militer canggih ke Taiwan dianggap memberikan sinyal yang salah kepada pihak-pihak tertentu. Hal ini dikhawatirkan akan memperkeruh suasana politik internasional, mengingat posisi strategis Taiwan dalam geopolitik global dan keterkaitannya dengan keamanan jalur perdagangan dunia.
Dengan situasi yang semakin memanas, komunitas internasional kini menyoroti pentingnya langkah de-eskalasi agar konflik terbuka dapat dihindari sepenuhnya. Keamanan di wilayah Selat Taiwan merupakan kunci bagi pertumbuhan ekonomi di Asia, sehingga menjaga stabilitas di wilayah tersebut harus menjadi prioritas utama demi kepentingan bersama di masa depan.
Editor: SnanePapua
