Januari 10, 2026

Kejutan Politik di Riyadh! Kelompok Separatis STC Yaman Resmi Umumkan Pembubaran Diri

SNANEPAPUA.COM – Dewan Transisi Selatan (STC), kelompok separatis yang selama ini menjadi aktor kunci dalam konflik berkepanjangan di Yaman, secara mengejutkan mengumumkan pembubaran organisasi mereka di Riyadh, Arab Saudi. Keputusan besar ini menandai titik balik signifikan dalam dinamika politik di Semenanjung Arab, mengingat peran strategis sekaligus kontroversial STC di wilayah selatan Yaman selama beberapa tahun terakhir.

Pengumuman pembubaran ini muncul menyusul serangkaian ketegangan militer yang memuncak pada Desember lalu. Kala itu, pasukan STC dilaporkan melancarkan serangan ofensif besar-besaran terhadap posisi pasukan pemerintah Yaman yang sah dan diakui secara internasional. Langkah militer tersebut sempat memicu kekhawatiran akan pecahnya perang saudara baru di dalam tubuh koalisi yang seharusnya bersatu melawan pemberontak Houthi.

Pihak Arab Saudi, yang memfasilitasi pertemuan di Riyadh tersebut, menyatakan bahwa STC selama ini mendapatkan dukungan dari Uni Emirat Arab (UEA). Meskipun Arab Saudi dan UEA tergabung dalam koalisi militer yang sama untuk memulihkan pemerintahan Yaman, perbedaan visi mengenai masa depan wilayah selatan seringkali memicu gesekan diplomatik dan bentrokan bersenjata di lapangan.

Langkah pembubaran STC ini masih menuai perdebatan dan menyisakan banyak pertanyaan mengenai masa depan para pejuangnya serta kontrol administratif atas wilayah-wilayah yang selama ini mereka kuasai. Sejumlah pengamat politik meragukan apakah keputusan ini akan benar-benar memadamkan aspirasi kemerdekaan Yaman Selatan atau justru merupakan bagian dari strategi reorganisasi kekuatan politik baru di bawah pengawasan ketat Riyadh.

Hingga berita ini diturunkan, proses transisi pasca-pengumuman pembubaran masih terus dipantau secara ketat oleh komunitas internasional. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat posisi pemerintah pusat Yaman dan menciptakan stabilitas yang lebih permanen guna mengakhiri krisis kemanusiaan yang telah menyengsarakan jutaan warga sipil di negara tersebut.

Cek Sumber Asli

Editor: SnanePapua