SNANEPAPUA.COM – Venezuela dikenal sebagai negara yang memiliki cadangan minyak mentah terbesar di dunia, bahkan melampaui negara-negara di kawasan Timur Tengah. Namun, kekayaan alam yang melimpah tersebut seolah menjadi kutukan bagi rakyatnya sendiri yang kini terjebak dalam krisis ekonomi berkepanjangan dan ketidakpastian hidup.
Meskipun memiliki potensi energi yang luar biasa besar, realita di lapangan menunjukkan pemandangan yang sangat kontras dan memprihatinkan. Sebagian besar warga di negara Amerika Selatan ini dilaporkan hanya memiliki penghasilan kurang dari US$ 4 atau sekitar Rp 63.000 per bulan. Angka ini tentu sangat jauh dari kata layak untuk memenuhi kebutuhan hidup dasar di tengah inflasi yang terus mencekik leher masyarakat.
Dahulu, komoditas minyak memang pernah membawa Venezuela menuju masa keemasan, menjadikannya salah satu negara paling makmur di kawasannya. Namun, ketergantungan yang terlalu tinggi pada satu sektor tanpa adanya diversifikasi ekonomi membuat fondasi keuangan negara ini menjadi sangat rapuh. Ketika harga minyak dunia mengalami gejolak, stabilitas ekonomi nasional pun ikut runtuh seketika.
Dampak dari krisis ini sangat terasa pada penurunan kualitas hidup masyarakat secara drastis. Infrastruktur yang terbengkalai, kelangkaan bahan pangan yang kronis, hingga krisis layanan kesehatan kini menjadi realita sehari-hari. Kekayaan minyak yang seharusnya bisa menyejahterakan seluruh lapisan masyarakat justru hanya dirasakan oleh segelintir pihak, sementara rakyat jelata terus berjuang di bawah garis kemiskinan ekstrem.
Kondisi Venezuela saat ini menjadi pelajaran berharga bagi dunia internasional mengenai pentingnya tata kelola sumber daya alam yang transparan, efektif, dan akuntabel. Tanpa manajemen pemerintahan yang baik dan visi ekonomi yang berkelanjutan, kekayaan alam yang melimpah tidak akan pernah memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan rakyat luas secara merata.
Editor: SnanePapua
