Februari 24, 2026
insiden rasial Prestianni Vinicius UEFA

Insiden Rasial Prestianni ke Vinicius: UEFA Beri Sanksi Tegas, Tapi Perlukah Hukuman Lebih Berat?

UEFA mengambil langkah tegas dengan memberikan sanksi larangan bermain satu pertandingan secara sementara kepada pemain muda Benfica, Gianluca Prestianni, menyusul dugaan pelecehan rasial terhadap bintang Real Madrid, Vinicius Junior. Keputusan ini dikeluarkan setelah insiden yang terjadi dalam pertandingan Liga Champions antara Real Madrid dan Benfica di Santiago Bernabeu pekan lalu, di mana Prestianni dilaporkan mengucapkan kata-kata rasis kepada Vinicius.

Insiden ini kembali menyoroti masalah rasisme yang masih mengakar dalam sepakbola Eropa, khususnya mengingat Vinicius Junior telah berulang kali menjadi target pelecehan rasial selama beberapa musim terakhir. Reaksi cepat UEFA patut diapresiasi, namun banyak pengamat mempertanyakan apakah sanksi satu pertandingan cukup memberikan efek jera bagi pelaku dan menjadi pencegah bagi insiden serupa di masa depan.

Sebagai pemain berusia 18 tahun yang dianggap sebagai salah satu talenta masa depan Argentina, tindakan Prestianni ini tidak hanya merusak reputasinya sendiri tetapi juga membayangi karier yang baru dimulai. Benfica sebagai klub juga terkena imbas, dengan citra akademi yang terkenal baik kini ternoda oleh tindakan pemain mudanya.

Analisis mendalam menunjukkan bahwa insiden ini mengungkap beberapa masalah sistemik. Pertama, meski kampanye anti-rasisme gencar dilakukan, insiden serupa terus berulang. Kedua, sanksi yang diberikan seringkali dianggap tidak proporsional dengan dampak psikologis yang dialami korban. Ketiga, perlu ada pendidikan berkelanjutan bagi pemain muda tentang kesetaraan dan penghormatan, tidak hanya di level profesional tetapi sejak usia dini di akademi sepakbola.

Dalam konteks yang lebih luas, kasus Prestianni vs Vinicius ini menjadi ujian bagi komitmen sepakbola Eropa dalam memberantas rasisme. UEFA perlu mempertimbangkan sanksi yang lebih progresif, seperti larangan bermain lebih panjang, denda berat bagi klub, dan program pendidikan wajib bagi pelaku. Tanpa tindakan yang lebih tegas, pesan yang dikirim adalah bahwa rasisme masih bisa ‘dibayar’ dengan hukuman ringan.

Vinicius Junior sendiri telah menunjukkan ketangguhan luar biasa menghadapi serangan rasial berulang, bahkan menjadi suara terdepan melawan rasisme dalam sepakbola. Namun, beban moral ini seharusnya tidak hanya dipikul oleh korban. Seluruh pemangku kepentingan sepakbola—pemain, klub, asosiasi, dan suporter—harus bersatu menciptakan lingkungan yang benar-benar inklusif.

Keputusan akhir UEFA mengenai sanksi permanen untuk Prestianni akan sangat ditunggu, karena akan menjadi indikator seberapa serius badan sepakbola Eropa ini menangani isu rasisme. Apapun hasilnya, insiden ini harus menjadi momentum bagi perubahan sistemik, bukan sekadar kasus hukum yang selesai dengan sanksi administratif.

Cek Sumber Asli

Editor: SnanePapua