Februari 1, 2026

Guncangan Ekonomi Global: Donald Trump Berlakukan Tarif 25 Persen untuk Produk Otomotif dan Farmasi Korea Selatan

SNANEPAPUA.COM – Kebijakan perdagangan internasional kembali memanas setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara resmi mengumumkan rencana kenaikan tarif impor yang signifikan terhadap berbagai komoditas utama dari Korea Selatan. Pada Senin (26/1), Trump menyatakan bahwa pemerintahannya akan memberlakukan tarif sebesar 25 persen, sebuah lonjakan drastis dari angka sebelumnya yang berada di level 15 persen. Langkah proteksionis ini menyasar tiga sektor vital ekonomi Negeri Ginseng tersebut, yakni industri otomotif, produk kayu, serta sektor farmasi.

Fokus pada Otomotif dan Farmasi: Mengapa Sektor Ini Disasar?

Keputusan Trump untuk menaikkan tarif hingga 25 persen bukan tanpa alasan strategis. Sektor otomotif Korea Selatan, yang merupakan salah satu tulang punggung ekspor negara tersebut ke Amerika Serikat, kini berada di bawah tekanan besar. Dengan tarif yang lebih tinggi, harga kendaraan asal Korea Selatan di pasar AS diprediksi akan melonjak, yang pada gilirannya dapat menurunkan daya saing mereka dibandingkan produsen domestik Amerika atau negara lain yang tidak terkena dampak serupa.

Selain otomotif, sektor farmasi juga menjadi sorotan utama. Korea Selatan telah berkembang menjadi pusat produksi biofarmasi global. Kenaikan tarif ini dikhawatirkan akan mengganggu rantai pasok obat-obatan dan bahan baku medis yang selama ini mengalir deras ke Amerika Serikat. Industri kayu pun tidak luput dari kebijakan ini, menambah daftar panjang tantangan bagi para eksportir Korea Selatan yang harus memutar otak untuk mempertahankan margin keuntungan di tengah kebijakan fiskal AS yang semakin ketat.

Eskalasi Kebijakan dari 15 ke 25 Persen

Kenaikan tarif ini menandai pergeseran agresif dalam diplomasi ekonomi Amerika Serikat. Sebelumnya, tarif yang dikenakan hanya sebesar 15 persen, namun pada hari Senin (26/1) tersebut, Trump menegaskan bahwa perlindungan terhadap industri dalam negeri AS memerlukan tindakan yang lebih tegas. Langkah ini dipandang sebagai bagian dari janji kampanye ‘America First’ yang berupaya menekan defisit perdagangan AS dengan mitra-mitra dagang utamanya.

Para analis ekonomi mencatat bahwa kenaikan sepuluh persen poin ini akan memberikan dampak psikologis dan finansial yang besar bagi pasar global. Ketidakpastian ini memicu kekhawatiran akan terjadinya perang dagang yang lebih luas, di mana negara-negara mitra mungkin akan melakukan aksi balasan (retaliasi) dengan menaikkan tarif pada produk-produk ekspor Amerika Serikat sebagai bentuk protes.

Dilema Industri Global di Tengah Proteksionisme AS

Dampak dari kebijakan tarif 25 persen ini dipastikan tidak hanya akan dirasakan oleh Korea Selatan, tetapi juga oleh konsumen di Amerika Serikat sendiri. Kenaikan tarif impor seringkali berujung pada kenaikan harga di tingkat retail. Konsumen Amerika kemungkinan besar harus membayar lebih mahal untuk kendaraan, produk kayu untuk konstruksi, hingga kebutuhan medis harian. Hal ini menciptakan dilema bagi pemerintahan Trump: di satu sisi ingin melindungi lapangan kerja domestik, namun di sisi lain berisiko memicu inflasi yang membebani masyarakat luas.

Bagi Korea Selatan, tantangan ke depan adalah bagaimana melakukan diversifikasi pasar agar tidak terlalu bergantung pada permintaan dari Amerika Serikat. Penyesuaian strategi industri dan penguatan pasar domestik atau pencarian mitra dagang baru di kawasan Asia dan Eropa menjadi langkah krusial yang harus segera diambil oleh pemerintah dan pelaku usaha di Seoul.

Cek Sumber Asli: Antara News

Editor: SnanePapua