SNANEPAPUA.COM – Situasi politik di Yaman kembali memanas setelah kepresidenan negara tersebut secara resmi mengeluarkan Aidarous al-Zubaidi dari jabatannya. Langkah drastis ini diambil menyusul tuduhan pengkhianatan terhadap pemimpin Dewan Transisi Selatan (STC) yang didukung oleh Uni Emirat Arab tersebut, yang kini berada di pusaran konflik internal pemerintahan.
Keputusan pengusiran ini dipicu oleh ketidakhadiran Al-Zubaidi dalam pertemuan penting yang dijadwalkan di Riyadh, Arab Saudi. Pertemuan tersebut sedianya dimaksudkan untuk membahas stabilitas wilayah dan koordinasi antara berbagai faksi yang bertikai di Yaman, namun kegagalan Al-Zubaidi untuk terbang ke Riyadh dianggap sebagai bentuk pembangkangan serius terhadap otoritas pusat.
Ketegangan ini semakin diperparah dengan adanya laporan serangan udara yang diluncurkan oleh pasukan Arab Saudi terhadap posisi-posisi kekuatan militer yang berafiliasi dengan kelompok separatis. Serangan ini menandai eskalasi yang mengkhawatirkan dalam dinamika hubungan antara koalisi yang dipimpin Saudi dengan kelompok-kelompok di selatan Yaman yang selama ini menjadi sekutu dalam melawan pemberontak Houthi.
Aidarous al-Zubaidi merupakan tokoh sentral dalam gerakan separatis di Yaman Selatan yang memiliki basis massa cukup kuat. Sebagai kepala STC, ia memiliki pengaruh besar dan dukungan militer yang signifikan di wilayah strategis tersebut. Namun, keretakan hubungan dengan pemerintah pusat dan sekutu regionalnya kini menempatkan posisi politiknya dalam ancaman besar.
Peristiwa ini diprediksi akan mengubah peta kekuatan di Yaman secara signifikan, mengingat STC merupakan salah satu pilar dalam struktur pemerintahan transisi. Dengan adanya tuduhan pengkhianatan dan aksi militer langsung, prospek perdamaian di wilayah yang telah lama didera konflik ini tampaknya kembali menemui jalan terjal. Cek Sumber Asli
Editor: SnanePapua
