SNANEPAPUA.COM – Bencana banjir bandang yang melanda Pulau Siau, Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Sulawesi Utara, telah meninggalkan duka mendalam bagi warga setempat. Berdasarkan data terbaru, sebanyak 691 kepala keluarga (KK) terpaksa harus meninggalkan kediaman mereka untuk mencari tempat perlindungan yang lebih aman akibat dampak kerusakan yang ditimbulkan oleh terjangan air bah tersebut.
Musibah ini tidak hanya menyebabkan kerugian materiil yang besar, tetapi juga menelan korban jiwa. Laporan terkini menyebutkan bahwa sedikitnya 17 orang dinyatakan meninggal dunia setelah terseret arus banjir bandang yang datang secara tiba-tiba. Angka tersebut menjadi pengingat betapa dahsyatnya kekuatan alam yang menghantam pemukiman warga di wilayah kepulauan tersebut.
Saat ini, ratusan pengungsi telah ditempatkan di beberapa titik pengungsian darurat yang disiapkan oleh pemerintah daerah. Upaya pemenuhan kebutuhan dasar, seperti logistik makanan, air bersih, dan layanan kesehatan, terus diupayakan agar menjangkau seluruh warga yang terdampak. Petugas di lapangan bekerja siang dan malam untuk memastikan kondisi para pengungsi tetap stabil di tengah situasi sulit ini.
Tim SAR gabungan bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan relawan masih terus melakukan penyisiran di lokasi-lokasi yang terdampak parah. Proses evakuasi dan pencarian korban dilakukan dengan penuh kehati-hatian, mengingat medan yang tertutup material lumpur dan bebatuan pascabanjir. Koordinasi antarinstansi diperketat guna mempercepat proses penanganan darurat di Pulau Siau.
Pemerintah setempat mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang masih mungkin terjadi. Langkah-langkah mitigasi dan pemulihan pascabencana kini menjadi prioritas utama agar aktivitas sosial dan ekonomi warga di Kabupaten Kepulauan Sitaro dapat segera kembali normal.
Editor: SnanePapua
