SNANEPAPUA.COM – Langkah Amerika Serikat yang melakukan penyitaan terhadap pesawat kepresidenan pemimpin Venezuela, Nicolas Maduro, menuai gelombang kritik tajam dari berbagai belahan dunia. Tidak hanya datang dari negara-negara yang selama ini menjadi lawan politik Washington, kecaman tersebut juga disuarakan oleh sejumlah negara yang merupakan sekutu dekat Amerika Serikat.
Penyitaan ini dilakukan di Republik Dominika dengan alasan adanya dugaan pelanggaran sanksi yang dijatuhkan oleh AS terhadap pemerintahan Maduro. Pesawat jenis Dassault Falcon 900EX tersebut kemudian diterbangkan ke Florida, sebuah tindakan yang dianggap oleh banyak pihak sebagai bentuk eskalasi ketegangan diplomatik yang sangat serius antara kedua negara.
Pihak Venezuela sendiri menyebut tindakan ini sebagai aksi pembajakan yang melanggar hukum internasional. Negara-negara sekutu Venezuela seperti Rusia dan China juga memberikan pernyataan keras, menuduh Amerika Serikat bertindak layaknya polisi dunia yang tidak menghormati kedaulatan negara lain serta prosedur hukum yang berlaku secara global.
Yang cukup mengejutkan adalah respons dari beberapa negara sahabat AS yang menilai bahwa tindakan sepihak ini dapat memperkeruh situasi politik di kawasan Amerika Latin. Mereka mengkhawatirkan dampak jangka panjang terhadap upaya dialog perdamaian yang selama ini sedang diusahakan untuk menyelesaikan krisis internal di Venezuela pasca pemilihan umum yang penuh polemik.
Hingga saat ini, Departemen Kehakiman Amerika Serikat tetap bersikukuh bahwa tindakan mereka legal dan sesuai dengan regulasi kontrol ekspor. Namun, tekanan internasional terus meningkat seiring dengan perdebatan mengenai batas-batas yurisdiksi suatu negara dalam menegakkan sanksi sepihak di wilayah kedaulatan negara ketiga.
Editor: SnanePapua
