Januari 10, 2026

Sekolah di Bawah Bayang-bayang Maut: Anak-anak Gaza Terjang Bahaya Penembak Jitu demi Pendidikan

SNANEPAPUA.COM – Pendidikan di Jalur Gaza kini menjadi medan perjuangan hidup dan mati bagi ribuan anak-anak yang tetap bertekad untuk belajar di tengah kepungan konflik. Para siswa di wilayah tersebut dilaporkan harus mempertaruhkan nyawa mereka, melewati ancaman penembak jitu (sniper) hanya untuk mencapai sekolah-sekolah darurat yang didirikan di dalam tenda-tenda pengungsian.

Kondisi mencekam ini terjadi terutama di wilayah yang dikategorikan sebagai ‘zona kuning’, di mana risiko serangan dan keberadaan militer sangat tinggi. Meskipun berada dalam ancaman konstan, antusiasme anak-anak Gaza untuk menuntut ilmu tidak surut, meski fasilitas pendidikan mereka kini hanyalah berupa tenda-tenda sederhana dengan peralatan belajar yang sangat terbatas dan kondisi lingkungan yang tidak memadai.

Namun, dampak dari perang yang berkepanjangan ini tidak hanya mengancam keselamatan fisik para siswa. Badan PBB untuk urusan anak-anak, UNICEF, mengeluarkan peringatan serius mengenai kesehatan mental dan perkembangan generasi muda di Gaza. Berdasarkan data terbaru, UNICEF mencatat bahwa sekitar 25 persen anak-anak di wilayah tersebut kini mengalami gangguan bicara atau hambatan komunikasi (speech impediments).

Fenomena gangguan bicara ini diyakini sebagai dampak langsung dari trauma hebat yang dialami anak-anak akibat paparan terus-menerus terhadap suara ledakan, kekerasan, dan kehilangan orang-orang tercinta. Hilangnya lingkungan sekolah yang aman dan stabil telah mengganggu proses tumbuh kembang mereka secara signifikan, menciptakan krisis kesehatan mental yang mendalam di samping krisis kemanusiaan yang sudah ada.

Dunia internasional kini terus didesak untuk memberikan perlindungan lebih bagi fasilitas pendidikan dan anak-anak di zona konflik. Tanpa adanya jaminan keamanan dan gencatan senjata yang permanen, hak dasar anak-anak Gaza untuk mendapatkan pendidikan yang layak akan terus terhambat oleh bayang-bayang maut dan luka psikologis yang sulit disembuhkan di masa depan.

Cek Sumber Asli

Editor: SnanePapua