SNANEPAPUA.COM – Pihak kepolisian akhirnya memberikan klarifikasi resmi terkait penangkapan seorang pria yang berprofesi sebagai jurnalis dalam insiden pembakaran kantor tambang di Morowali. Kepolisian menekankan bahwa tindakan hukum yang diambil terhadap oknum tersebut tidak memiliki kaitan sama sekali dengan tugas jurnalistik yang diembannya, melainkan atas dugaan keterlibatan langsung dalam aksi anarkis tersebut.
Insiden yang terjadi di kawasan pertambangan Morowali ini sempat memicu ketegangan setelah massa melakukan aksi protes yang berujung pada pembakaran fasilitas kantor. Di tengah kericuhan tersebut, aparat keamanan mengamankan sejumlah orang yang diduga kuat menjadi penggerak atau pelaku perusakan, termasuk salah satunya yang belakangan diketahui merupakan seorang pekerja media.
Menanggapi isu yang beredar luas mengenai dugaan kriminalisasi terhadap pers, pihak kepolisian melalui juru bicaranya menyatakan bahwa setiap warga negara memiliki kedudukan yang sama di mata hukum. Penangkapan dilakukan berdasarkan bukti-bukti permulaan yang cukup mengenai keterlibatan terduga pelaku di lapangan saat peristiwa pembakaran berlangsung.
Saat ini, penyidik tengah melakukan pendalaman lebih lanjut untuk mengungkap peran masing-masing individu yang telah diamankan. Polisi menjamin bahwa proses hukum akan berjalan secara transparan dan profesional, serta menghimbau masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi kebenarannya terkait latar belakang para tersangka.
Situasi di lokasi kejadian kini dikabarkan mulai kondusif setelah personel tambahan dikerahkan untuk menjaga keamanan di sekitar area tambang. Pihak berwenang juga meminta semua pihak untuk menghormati proses hukum yang sedang berjalan dan tetap menjaga ketertiban demi kenyamanan bersama di wilayah industri strategis tersebut.
Editor: SnanePapua
